Penghambat Perkembangan Mobil Listrik di Indonesia

Riyandy Aristyo · Selasa, 15 Mei 2018 - 22:33 WIB

Harga yang cenderung mahal, pajak tinggi, minimnya infrastruktur pengisian listrik (charging station) menjadi batu ganjalan perkembangan kendaraan listrik. (Foto: Ilustrasi)

BOGOR, iNews.id - Industri otomotif dunia saat ini mulai memasuki masa peralihan dari kendaraan konvensional menuju mobil listrik (electric vehicle/EV). Namun, melihat perkembangan kendaraan listrik di Tanah Air, ada banyak faktor yang menghambat.

Pertama, regulasi pemerintah apakah support atau tidak? Sebab dilihat dari sumber daya manusia (SDM) Indonesia sudah mumpuni dan mampu menciptakan mobil listrik berkualitas dunia.

Dari sisi pelaku industri global, para agen pemegang merek (APM) sudah siap. Namun, kerap dihadapkan berbagai kendala untuk bisa memasarkan mobil listrik di Indonesia.

Dari beragam kendala tersebut, permasalahan yang paling sulit adalah menentukan harga untuk produk yang nantinya masuk ke pasar nasional. Harga yang cenderung mahal, pajak tinggi, serta minimnya infrastruktur pengisian daya listrik (charging station) menjadi batu ganjalan.

"Pengisian itu bisa di rumah, namun membutuhkan waktu pengisian yang cukup lama ketimbangdiisi melalui perangkat quick charging," ujar Rahardito Dio Prastowo, technical instructor PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) dalam HUT ke-15 Forum Wartawan Otomotif (Forwot) di Sentul, Bogor, Sabtu (12/5/2018).

Rahardito menuturkan, para pengguna mobil listrik di Jepang biasanya mengisi daya di port pengisian umum. Karena hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk dapat mengisi 80 persen kapasitas baterai kendaraan mereka.

Sementara jika mengisi di rumah membutuhkan waktu hingga 6 sampai 10 jam, tergantung pada daya listrik di rumah.

"Contohnya, mengisi daya listrik pada Mitsubishi i-MIEV, jika diisi hingga penuh membutuhkan waktu hingga 6 jam dengan daya listrik AC230 volt dengan 15 ampere, 8 jam untuk 10 ampere dan 10 jam untuk 8 ampere," jelasnya.

Sementara untuk listrik rumah tangga di Indonesia itu rata-rata masih 6 ampere, jadi pengisiannya memakan waktu lebih lama," kata Rahardito.

Rahardito memaparkan masyarakat di Indonesia tidak perlu khawatir mengenai keamanan mobil listrik. "Masih banyak masyarakat yang berpikir mengenai kemungkinan tersetrum listrik. Dalam pengembangan mobil listrik, tentunya kami selaku pabrikan yang paling pertama diperhitungkan adalah bagaimana keamanan saat kondisi banjir," ujarnya.

Dia menyebutkan sebagai bukti nyata bisa melihat pada Mitsubishi i-MIEV, city car tanpa polusi itu aman melewati banjir meski baterai lithium-ion miliknya terletak di bagian lantai kendaraan.

"Pada i-MIEV itu kita aplikasikan teknologi seperti sekering pemutus aliran listrik ketika terjadi banjir atau kecelakaan. Ketika menghadapi kecelakaan, terdapat G-Sensor yang bisa membaca tumbukan atau kondisi kendaraan terbalik, kemudian sistem secara otomatis memutus aliran listrik dari baterai," katanya.

Bagaimana jika baterai meledak? "Baterai memang bisa saja meledak, namun kita bisa pastikan insulasinya sangat baik dan sangat rapat. Dengan begitu, jika meledak efeknya hanya membuat sasis bagian bawah gembung. Yang pasti tidak bersentuhan dengan sasis lalu menyebabkan bahaya tersetrum," ujar Rahardito.


Editor : Dani Dahwilani

KOMENTAR