Teknologi Hybrid Jadi Tahap Awal Produksi Mobil Listrik Nasional

Dani M Dahwilani ยท Kamis, 09 Agustus 2018 - 19:50 WIB
Teknologi Hybrid Jadi Tahap Awal Produksi Mobil Listrik Nasional

Di hari kedelapan pameran otomotif GIIAS 2018, Gaikindo dan Kementerian Perindustrian menggelar seminar Studi Pengembangan Electrified Vehicle di Indonesia. (Foto:

TANGERANG, iNews.id - Mobil elektrifikasi berbasis teknologi hybrid atau dikenal dengan Hybrid Electric Vehicle (HEV) berpeluang besar dikembangkan sebagai tahap awal program industri mobil elektrifikasi nasional. Hal tersebut diungkap dalam paparan hasil awal riset dan studi komperatif (preliminary study result) Electrified Vehicle Comprehensive Studi) oleh Tim Riset ITB dan UI.

Mereka menilai teknologi ini mampu menghemat konsumsi BBM secara signifikan. Untuk itu, kendaraan jenis HEV bisa langsung diimplementasikan karena tidak membutuhkan dukungan tambahan seperti jenis mobil elektrifikasi lainnya.

“Konsep mobil Hybrida Electric Vehicle (HEV) bisa langsung diimplementasikan karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan. Selain itu, konsumsi bahan bakar dua kali lebih efisien dibanding mobil konvensional,” ujar Ketua Tim Riset ITB Agus Purwadi, saat menjelaskan preliminary study result dari Study Komperhensif Kendaraan Elektrfikasi di GIIAS 2018, ICE-BSD City, Tangerang, Banten, Kamis (9/8/2018).

Electrified Vehicle Comprehensive Study merupakan kerja sama Kementerian Perindustrian dengan enam perguruan tinggi menggunakan 12 unit kendaraan Toyota, terdiri atas Toyota Corolla dengan mesin konvensional (internal combustion engine/ICE), Corolla mesin hybrid electronic vehicle (HEV), Toyota Prius teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Enam perguruan tinggi yang dilibatkan adalah Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Udayana.

Dalam paparan hasil riset awal, Tim Riset ITB menyebutkan, pengujian telah dilakukan selama 44 hari dengan jarak tempuh 2.000 km dengan penggunaan di dalam dan luar Kota Bandung.

Hasilnya, konsumsi bahan bakar mobil Toyota Corolla Hybrid memiliki efisiensi dua kali lebih baik dibandingkan Corolla dengan mesin konvensional. Konsumsi bahan bakar mesin konvensional mencapai 10,2 km per liter, sedangan konsumsi bahan bakar HEV 22,7 km per liter. Hasil riset itu juga menyebutkan, mobil Hybrid ini sama sekali tidak membutuhkan infrastruktur tambahan sehingga bisa langsung diimplementasikan.

Sementara untuk kendaraan Prius PHEV, konsumsi bahan bakarnya jauh lebih irit, lima kali lebih efisien, yaitu 56,7 km per liter. Namun, kendaraan ini membutuhkan infrastruktur tambahan karena memerlukan pengisian (charging) selama kurang lebih selama kurang lebih 0,74 kali per hari, dengan catatan baterai belum diisi penuh.

“Mobil PHEV memang jauh lebih irit dibanding HEV, apalagi ICE. Tapi PHEV membutuhkan infrastruktur tambahan. Kalau mau segera diimplementasikan, maka mobil HEV pilihannya karena tidak membutuhkan infrastruktur tambahan,” kata Agus.

Pada PHEV, proses pengisian baterai membutuhkan infrastruktur tambahan berupa stasiun pengisian listrik umum atau privat di level rumah tangga. Tim Riset ITB mengungkapkan, saat ini hanya dua persen rumah tangga di Indonesia yang memiliki daya listrik sebesar 3.500 VA ke atas untuk mengakomodasi kebutuhan pengisian baterai tersebut.

Sementara itu, empat persen rumah tangga lain memiliki daya listrik 2.200 VA. Meskipun kapasitas daya ini cukup, namun konsekuensinya saat melakukan pengisian baterai semua daya diserap habis. Artinya, kalau sedang melakukan pengisian baterai daya listrik akan terserap, sehingga rumah tangga dengan daya listrik 2.200 V ini tidak bisa memakai perangkat listrik lainnya.

Di sisi lain, hasil riset dari tim dari UI yang diwakili LPEM-UI menekankan pencapaian target pengurangan CO2 dan konsumsi BBM secara signifikan yang menjadi salah satu target kebijakan pengembangan mobil elektrifikasi di Indonesia hanya bisa dicapai jika penggunaan mobil jenis ini berlangsung masif. Dibutuhkan langkah-langkah untuk membuat teknologi ini populer di kalangan masyarakat, dan ini akan menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan teknologi listrik.

“Masyarakat konsumen harus memahami keunggulan dan keuntungan mengendarai atau memiliki kendaraan jenis ini terlebih dahulu, barulah bisa mengharapkan mereka bisa membeli atau memakai. Untuk itu, regulasi harus mendukung agar industri kendaraan berteknologi listrik ini bisa tumbuh di dalam negeri,” kata Chaykal Nuryakin dari LPEM UI.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengatakan, pihaknya sangat mendukung kebijakan pengembangan industri kendaraan elektrifikasi yang telah dicanangkan pemerintah, namun perlu dilakukan secara bertahap. Untuk tahap awal, sebaiknya dikembangkan konsep mobil hybrid mengingat membutuhkan infrastruktur tambahan.

“Kalau PHEV membutuhkan waktu yang panjang. Selain itu, saat ini banyak agen pemegang merek (APM) telah memasarkan produk-produk hybrid. Sejalan dengan penerapan kebijakan tersebut, biar nantinya konsumen yang menentukan produk mobil elektrifikasi yang akan mereka pilih," ujarnya.

"Yang harus disiapkan adalah infrastrukturnya untuk mendukung kehadiran produk electrified vehicle itu. Ketika harga bahan bakar minyak sudah tinggi dan infrastruktur memadai, masyarakat pasti akan beralih memakai produk tersebut,” kata Nangoi.

Sementara itu, Dirjen ILMATE Kemenperin Harjanto mengatakan, untuk jangka pendek pihaknya cenderung mengembangkan teknologi PHEV. Meski infrastrukturnya belum terbangun, PHEV lebih efisien hemat energi dan ramah lingkungan.

“Pengembangan kendaraan elektrifikasi (electrified vehicle) memang butuh tahapan-tahapan. Terkait dengan efisiensi, maka kebijakan ini tidak bisa dilepaskan dari konsep energy security. Kami inginnya full efficiency, sehingga untuk tahap awal cenderung dikembangkan ke Hybrid Plug-In Electriv Vehicle," katanya.

Dia mengatakan, selain bisa menghemat energi hingga 82 persen, PHEV juga menjadi kendaraan yang ramah lingkungan karena mampu menurunkan kadar C02 yang signifikan seiring pemerintah menyiapkan infrastrukturnya secara bertahap.

"Selain itu, melihat dari kondisi pasar, marketnya juga belum terlampau besar atau masih animo saja. Sehingga dibutuhkan infrastruktur pendukung, baik untuk industrinya maupun bagi pengguna,” kata Harjanto.


Editor : Tuty Ocktaviany