Berbisnis di RI, Produsen Mobil DFSK Tak Terpengaruh Gejolak Rupiah

Anton Suhartono ยท Sabtu, 15 September 2018 - 09:06 WIB
Berbisnis di RI, Produsen Mobil DFSK Tak Terpengaruh Gejolak Rupiah

Dealer DFSK di Surabaya (Foto: iNews)

SURABAYA, iNews.id – Belakangan ini mata uang rupiah bergejolak terhadap dolar Amerika Serikat dan memengaruhi bisnis di sektor industri, termasuk otomotif. Namun kondisi ini tak memengaruhi Sokonindo Automobile, selaku agen pemegang merek (APM) kendaraan asal China, DFSK, untuk terus menggarap pasar Indonesia.

DFSK merupakan pendatang baru di pasar Indonesia. Saat ini, merek kendaraan yang lahir di Dongfeng, China, itu baru memasarkan dua model, yakni di segmen kendaraan penumpang SUV 7-seater Glory 580 dan mobil komersial pikap Super Cab.

Managing Director of Sales Center Sokonindo Automobile, Franz Wang, mengatakan, sejak awal memulai bisnis otomotif di China satu dekade silam, DFSK sudah berkomitmen untuk menjadi merek global. Untuk mewujudkannya, DFSK harus berinvestasi di luar negeri.

Sejauh ini, tidak ada penghalang bagi perusahaan untuk terus melakukan penetrasi pasar. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dinilai tak akan menggoyahkan tujuan utama DFSK untuk menggarap pasar Indonesia. Apalagi, Pemerintah Indonesia mendukung investasi DFSK yang kini memiliki pabrik di Serang, Banten.

“Kenapa kami pilih Indonesia sebagai negara di luar China untuk berinvestasi, pada dasarnya adalah karena DFSK ingin selalu terus berkembang, tidak hanya di pasar China, tapi juga pasar internasional. Selama 10 tahun kami sudah melakukan ekspor, baik itu utuh atau terurai ke negara lain. Tapi kami juga sadar, sebagai produsen automotif, untuk bisa menjadi merek global, kami harus berinvestasi dengan mendirikan pabrik di beberapa kawasan di dunia,” jelasnya, di Surabaya, Jumat (14/9/2018).

Franz menceritakan, DFSK sudah melakukan studi di Amerika Latin, Asia Tenggara, dan Afrika, sebagai bahan perbandingan. Setelah mempertimbangkan, DFSK memilih Indonesia.

“Karena Indonesia merupakan pasar yang paling potensial, polulasinya besar, dan kondisi perekonomiannya belakangan ini stabil, dan juga Indonesia sudah punya industri otomotif. Jadi, Indonesia menjadi pasar yang paling menjanjikan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Indonesia punya selera pasar yang sama dengan China untuk produk otomotif. Hal ini karena kedua negara punya jumlah keluarga yang besar sebagai dampak dari bonus demografi. Kendaraan penumpang dengan daya tampung tujuh orang lebih digemari di kedua negara ini.

“Indonesia merupakan negara dengan populasi besar yakni setidaknya 250 juta jiwa, di mana China dengan populasi 1,3 miliar jiwa. Keduanya negara dengan populasi besar, kedua negara ini punya jumlah keluarga yang besar. Di dua negara ini juga model 7-seater cukup populer. Itu artinya apa pun produk yang kami kembangkan di pasar China, dia juga punya kesempatan besar untuk cocok dengan pasar Indonesia,” kata Franz, menjelaskan.

Benar saja, kendaraan penumpang 7-seater yakni SUV Glory 580 mendapat sambutan positif dari masyarakat, sejak diperkenalkan di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 pada April lalu dan diluncurkan tiga bulan kemudian.

“Kami meluncurkan Glory 580 pada Juli. Selama dua bulan ini kami mendapat respons positif. Kami pun melakukan peluncuran di daerah, di Makassar, Bandung, Yogyakarta, dan sekarang di Surabaya, lalu kami akan ke Medan dan kami kembali lagi ke Semarang. Seluruh kota-kota yang kami sudah luncurkan, tak hanya mendapat sambutan luar biasa, tapi juga tanggapan sangat positif. Untuk Glory 580, orang-orang suka dengan desain, fitur, dan tenaganya,” kata Franz, memaparkan.

Dia berharap dengan peluncuran regional akan lebih banyak masyarakat yang mengenal Glory 580 sekaligus menjajalnya.

“Jadi, kami berharap lebih banyak orang menjajal Glory 580. Kami melakukan program pengalaman berkendara dan berkesempatan mendapat satu unit Glory 580,” ujarnya.


Editor : Anton Suhartono