Jenis-Jenis Kampas Rem Cakram untuk Motor

Riyandy Aristyo ยท Selasa, 03 April 2018 - 12:05 WIB
Jenis-Jenis Kampas Rem Cakram untuk Motor

Ada beberapa bahan kampas rem cakram yang ditawarkan, yaitu kampas organik, semi-logam, asbes, keramik, dan sinter. (Foto: EBC Brakes)

DEPOK, iNews.id - Disc pad atau kampas rem cakram merupakan perangkat utama pada sistem pengereman cakram. Komponen ini memiliki fungsi paling penting, yakni sebagai pencengkram piringan cakram agar laju motor bisa dikurangi hingga berhenti sempurna.

Kampas rem cakram memiliki berbagai jenis, tergantung bahan yang digunakan. Jenis motor juga menentukan kanvas rem yang cocok.

"Ada beberapa bahan kampas rem cakram yang ditawarkan, yaitu kampas organik, semi-logam, asbes, keramik, dan sinter," ujar Anjas Marbun, pemilik serta mekanik bengkel Beji Motor's saat berbincang-bincang ringan dengan iNews.id, beberapa waktu lalu.

Anjas mengungkapkan kampas rem dengan bantalan logam sinter paling banyak digunakan. Tak heran, jika kapas rem jenis ini banyak ditemukan di pasaran. Istilah sinter mengacu pada proses produksi yang menggunakan panas dan tekanan ekstrem untuk menyatukan lapisan perunggu yang berbentuk serbuk ke bagian pelat di bagian belakang.

"Kampas rem sinter menawarkan gigitan atau pengereman yang kuat. Mampu menghentikan gerak berkekuatan besar, dan usia pakai yang lama. Ideal untuk sepeda motor sport. Harganya relatif lebih mahal dibandingkan dengan kampas semi-logam dan organik. Namun dengan performa yang lebih baik dan umur lebih lama, biaya yang Anda keluarkan sepadan dengan kualitasnya," jelas Anjas.

Kampas rem sinter memerlukan kondisi yang sedikit panas agar bisa bekerja maksimal. Meskipun demikian, kampas rem ini menawarkan performa dan daya kerja baik dalam berbagai kondisi.

Kampas Rem
Bagaimana dengan motor yang dipakai harian? "Kadang kala banyak orang yang memakai motor harian, tapi kampas remnya suka over spesifikasi. Untuk motor harian, cukup memakai kampas rem keramik bila ingin di upgrade," katanya.

"Kalau motor harian ingin di-upgrade kampas remnya, cukup dengan yang keramik. Bila memakai yang metal king atau sinter, saya rasa itu over spec," tambah Anjas.

Sementara kinerja bantalan rem organik tidak seperti bantalan sinter. Bantalan organik memiliki kandungan logam yang sangat sedikit. Termasuk dalam bantalan logam meliputi logam non-besi, di antaranya tembaga, timah, dan aluminium.

Logam-logam itu ditaburkan ke lempeng kampas rem untuk memperbaiki kemampuan agar tidak mudah aus dan tahan gesekan.

"Kampas rem organik punya karakter lembut. Kampas rem jenis ini menawarkan gigitan awal yang lembut. Kampas ini sama sekali tidak mengeluarkan suara berisik, serta sangat mudah diaplikasikan untuk sepeda motor," lanjut Anjas.

Soal harga? Kampas organik lebih ramah di dompet. Namun, kampas rem organik memiliki masa pakai yang lebih singkat dibandingkan dengan kampas rem sinter dan semi-logam. Kampas organik tidak cocok digunakan untuk pengendara agresif.

"Bila cakram tidak sesuai dengan kampas rem, cakram standar atau bawaan motor, tapi kampas remnya metal king atau sinter. Yang kalah nanti cakramnya," terangnya.

Anjas menambahkan kampas rem keramik lebih baik dibandingkan kampas yang dibuat asbestos. Kampas rem keramik, metal king, dan sinter lebih tahan panas.

"Biasanya bila memakai kampas rem standar, saat motor sering dibawa di jalur turunan atau belokan, kampas rem ini akan cepat 'nge-loss'. Hal ini disebabkan karena titik panasnya sudah lewat dari batas yang ada, jadi kampas remnya sudah tidak berfungsi lagi," katanya.

"Kalau memakai kampas rem di atas asbestos, memiliki ketahanan panas yang lebih baik. Makin tinggi speck kampas remnya, tahan panasnya akan lebih bagus," jelasnya.

Anjas menyarankan, agar saat kampas rem diganti sebaiknya komonen yang lain juga harus disesuaikan.  

"Lain cerita, misalnya motor standar 150 cc dan sudah di-bore up. Pengereman jangan lupa di-upgrade. Contohnya, kaliper (kepala babi) diganti yang dua piston. Intinya, kalau mau ganti komponen di motor, perhatikan juga komponen lainnya juga agar seimbang dan pas," pungkasnya.


Editor : Dani Dahwilani