Dolar AS di Atas Rp15.000, Mercedes-Benz Masih Tahan Harga

Dani M Dahwilani ยท Jumat, 12 Oktober 2018 - 13:03 WIB
Dolar AS di Atas Rp15.000, Mercedes-Benz Masih Tahan Harga

Harga produk masih sama sejak Februari 2018, lantaran sebagian besar transaksi luar negeri Mercedes-Benz tidak menggunakan dolar AS tetapi euro. (Foto: Mercedes)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

TANGERANG, iNews.id - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang saat ini berada di atas Rp15.000, membuat para Agen Pemegang Merek (APM) mobil di Indonesia, kompak untuk menaikan harga produk. Namun, tidak demikian bagi pabrikan mobil Jerman, Mercedes Benz yang masih menahan harga.

Deputy Director Marketing Communication PT Mercedes-Benz Distribution Indonesia, Hari Arifianto menungkapkan, harga produk masih sama sejak Februari 2018, lantaran sebagian besar transaksi luar negeri Mercedes-Benz tidak menggunakan dolar AS tetapi euro.

Menurutnya, transaksi dolar AS hanya dilakukan dengan vendor atau pihak ketiga. Namun, kurs rupiah terhadap euro saat ini sebenarnya juga terpengaruh hingga melebihi asumsi awal mereka.

"Sepanjang tahun kami ada rentang fluktuasi nilai tukar. Selama belum melewati rentang itu, kami masih berusaha menahan agar tidak ada perubahan harga. Tapi kalau sudah melewati buffer yang ditentukan mau tak mau harus disesuaikan," ujar Hari, saat ditemui iNews.id, baru-baru ini.

Hari memandang, fluktuasi kurs rupiah masih dalam taraf aman. Mercedes-Benz bahkan tidak melakukan efisiensi operasi di Indonesia.

"Kami ingin memaksimalkan pelayanan pelanggan terutama di kondisi sulit. Bahkan, kami menerbitkan layanan terbaru untuk charging point and exclusive parking. Di Plaza Indonesia pun free of charge," katanya.

Satu faktor lain yang membuat ruang gerak Mercedes-Benz lebih leluasa adalah banyaknya model yang sudah diproduksi secara lokal (Completely Knock-Down/CKD). Saat ini, ada enam model yang telah dirakit di pabrik Wanaherang, Bogor.

"Kebetulan 80 persen kendaraan yang dijual di Indonesia sudah CKD, jauh lebih banyak dibandingkan CBU. CBU berkapasitas mesin di atas 3.000 cc bahkan mungkin kontribusinya cuma sekitar tiga persen," ujar Hari.


Editor : Dani Dahwilani