Berawal dari Barak Rokok, Begini Kisah Terbentuknya PB Djarum

Reynaldi Hermawan ยท Senin, 09 September 2019 - 12:27 WIB
Berawal dari Barak Rokok, Begini Kisah Terbentuknya PB Djarum

GOR Bulu Tangkis PB Djarum di Kudus, Jawa Tengah. (Foto: Dok. PB Djarum)

JAKARTA, iNews.id – Mulai 2020, PB Djarum tak lagi menggelar audisi beasiswa bulu tangkis di Indonesia. Meski berat, keputusan ini terpaksa dikeluarkan sebab ada polemik berkepanjangan soal eksploitasi anak yang dikemukakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Hal ini rupanya menyita perhatian masyarakat. Banyak yang menyayangkan sebab PB Djarum kerap menghasilkan atlet-atlet terbaik Tanah Air seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, Tontowi Ahmad, hingga Liem Swie King.

BACA JUGA

Menpora Tetap Dukung Audisi Umum di PB Djarum

5 Pebulu Tangkis Tingkat Dunia Jebolan PB Djarum, Nomor 3 Raih Emas Olimpiade

Tahun Depan Tak Ada Lagi Audisi Umum di PB Djarum

Jika menilik sejarah, lembaga tersebut lahir dari kecintaan CEO PT Djarum, Budi Hartono kepada dunia bulu tangkis. Selain itu, sejumlah karyawan di PT Djarum juga memiliki hobi serupa. Mereka sering menyalurkan hobinya itu setiap selesai bekerja. Kegiatan tersebut mulai berlangsung pada suatu sore di tahun 1969 dan rutin diadakan di barak karyawan melinting rokok yang berlokasi di Jalan Bitingan Lama No. 35, Kudus, Jawa Tengah.

Setahun berselang, agenda tersebut juga diikuti orang-orang dari luar PT Djarum. Berbagai jenjang usia meramaikan permainan bulu tangkis di sana. Udara pengap di barak akibat aroma cengkeh dan tembakau tak menghalangi mereka untuk berolahraga.

Mereka menamai kegiatan itu sebagai Komunitas Kudus. Dari perkumpulan itu pula akhirnya muncul atlet berbakat bernama Liem Swie King. Dia punya prestasi mentereng ketika meraih Piala Munadi di sektor tunggal putra 1972.

Capaian positif itu yang menumbuhkan keinginan Budi Hartono untuk mengubah Komunitas Kudus menjadi PB Djarum. Akhirnya, PB Djarum Kudus diresmikan dan diketuai Setyo Margono pada 1974 silam.

Dari situ, pesona Lim Swie King makin terpancar. Pria asli Kudus yang kini berumur 63 tahun tersebut menjadi atlet PB Djarum pertama yang berhasil menjuarai turnamen All England. Pada 1978, dia menjadi yang terbaik di sektor tunggal putra.

Tak tanggung-tanggung, atlet yang dijuluki King Smash itu juga meraih kampiun pada 1979 dan 1981. Berkaca dari kesuksesan Liem Swie King, PB Djarum akhirnya membesarkan kegiatannya hingga memiliki Gelanggang Olahraga (GOR) yang diberi nama Kaliputu pada 1982.

Guna menyaring bibit-bibit unggul, PB Djarum mulai melebarkan sayapnya dengan membuka cabang di Jakarta pada 1985 dan Surabaya setahun kemudian. Hingga kini, banyak atlet muda yang menaruh harapannya di pendidikan bulu tangkis PB Djarum.


Editor : Bagusthira Evan Pratama