Timnas Maroko

Herve Renard, Pelatih Spesialis Tim Afrika

Fitradian Dhimas Kurniawan · Jumat, 15 Juni 2018 - 06:45 WIB

Herve Renard (Foto: http://ghanasoccernet.com)

MOSKOW, iNews.id – Pelatih tim nasional Maroko Herve Renard bisa dikatakan sebagai pahlawan bagi tim berjuluk Singa Atlas. Bagaimana tidak, dia membawa Maroko menuju Piala Dunia setelah absen selama 20 tahun.

Namanya mungkin tak besar di sepak bola Eropa. Namun di Afrika, Renard merupakan jaminan mutu. Tercatat ada empat negara Afrika yang pernah ditanganinya, yaitu Angola, Zambia, Pantai Gading dan sekarang Maroko.

Tim kecil Zambia sukses dibawanya menjadi juara Piala Afrika 2012. Dia juga sukses menjadi juara Afrika 2015, bersama Pantai Gading.

Mantan pelatih Lille itu juga memberikan prestasi serupa kepada Maroko. Dia memberikan titel juara Afrika kepada Singa Atlas pada Februari lalu, menjadikannya pelatih dengan tiga gelar Benua Hitam dengan 3 negara berbeda.

Dengan tangan dingin Renard, Maroko lolos ke Rusia setelah menjadi pemuncak Grup C babak kualifikasi zona Afrika. Mereka tak pernah kalah dan mengumpulkan nilai 12, dari tiga kemenangan dan tiga hasil imbang. Satu tim dengan Pantai Gading, Gabon dan Mali, Maroko selalu mampu meraih nilai penuh melawan ketiganya.

Pelatih asal Prancis itu mengutamakan komposisi tim dengan gabungan pemain muda dan penggawa berpengalaman. Hasilnya pun positif dan menciptakan permainan kolektivitas dengan pressing dan bola-bola pendek, gaya yang sama dilakukannya bersama Zambia.

Setelah memenangkan Piala Afrika, Maroko menjalani enam pertandingan uji coba. Mereka sanggup meneruskan tren positif dengan memenangkan lima laga dan satu kali imbang.

Kembali masuk ke Piala Dunia 2018 setelah vakum selama empat edisi, Maroko sesungguhnya bukan unggulan. Apalagi mereka berada di satu Grup dengan jawara Piala Dunia 2010 Spanyol dan kampiun Piala Eropa 2016 Portugal.

Namun, motivator ulung sekaliber Renard bisa saja memberikan kejutan di Grup B Piala Dunia 2018. Jika lawannya tidak waspada, tangan dinginnya bisa menjadi sandungan.


Editor : Abdul Haris

KOMENTAR