Piala Dunia 2018

Ini Kisah di Balik Kontroversi Selebrasi Elang Ganda Shaqiri dan Xhaka

Abdul Haris · Sabtu, 23 Juni 2018 - 08:12 WIB

Winger Swiss Xherdan Xhaqiri merayakan golnya ke gawang Serbia pada fase grup Piala Dunia di Kaliningrad Stadium, Sabtu (23/6/2018) dini hari WIB. (Foto-Foto: Sky Sports)

KALININGRAD, iNews.id – Xherdan Shaqiri dan Granit Xhaka menjadi pahlawan kemenangan 2-1 Swiss atas Serbia pada fase Grup E Piala Dunia 2018, Sabtu (23/6/2018) dini hari WIB. Namun, selebrasinya pada laga di Kalingrad Stadium itu memicu kontroversi.

Ya, Shaqiri yang menjadi penentu kemenangan La Nati pada menit ke-90 merayakan gol dengan membentuk gerakan tangan menyilang menyerupai simbol elang ganda mewakili bendera Kosovo.

Dalam gerakan itu, ibu jari Shaqiri mewakili kedua kepala elang, sementara jari-jari tampak seperti bulu. Sebelumnya, Xhaka yang mencetak gol penyeimbang pada menit ke-52 juga melakukan hal sama.

Selebrasi tersebut memantik kotroversi. Sebab, hal itu berpotensi mengobarkan ketegangan di antara nasionalis Serbia dan etnis Albania.

Kedua pemain tersebut melakukan itu bukan tanpa alasan. Shaqiri lahir di Kosovo, bekas provinsi Serbia yang mendeklarasikan kemerdekaan pada 2008. Serbia tidak mengakui kemerdekaan mereka. Sampai saat ini, hubungan kedua negara tetap tegang.

 

Granit Xhaka

 

Sementara orang tua Xhaka berasal dari Kosovo. Bahkan, ayah gelandang Arsenal itu sempat dipenjarakan di Serbia pada 1980-an. Setelah bebas, keluarga Xhaka bermigrasi ke Swiss.

Namun, seusai pertandingan Shaqiri membantah kalau selebrasi golnya itu sebagai simbol bendera Kosovo.

“Dalam sepak bola Anda selalu memiliki emosi dan Anda dapat melihat apa yang saya lakukan dan itu hanya emosi. Saya sangat senang mencetak gol, itu saja. Saya tak ingin membicarakan itu lagi,” ucap Shaqiri, dikutip AFP.

Selain Shaqiri dan Xhaka ada juga Blerim Dzemaili yang lahir di Makedonia. Dia juga punya garis keturunan Albania. Dan, Valon Behrami juga punya rekam jejak sebagai etnis Albania.

Sebelum pertandingan, kerabat para pemain tidak merahasiakan arti penting laga itu jika dilihat dari ibukota Kosovo, Pristina. Untuk paman Behrami, Qaush, keponakannya akan memiliki motivasi khusus untuk memburu kemenangan di laga itu karena orang tuanya menderita ketika Kosovo adalah provinsi Serbia.

"Mereka berdua kehilangan pekerjaan dan ayah mereka dianiaya,” kata Qaush Behrami.

Seperti puluhan ribu lainnya, selama perang 1998-1999 antara gerilyawan pro-kemerdekaan etnis Albania dan Serbia Kosovo, keluarga Behrami, Xhaka dan Shaqiri berlindung di Swiss. Tidak ada angka resmi, tetapi diperkirakan 200.000 orang Albania Kosovo tinggal di Swiss, jumlah yang mencolok bila dibandingkan dengan 1,8 juta penduduk Kosovo.

Bersama dengan komunitas yang tinggal di Jerman, mereka menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi Kosovo, mengirim sekitar 175 juta franc Swiss  kembali setiap tahun.

Bahkan, Perdana Menteri Kosovo Ramush Haradinaj juga pernah tinggal di Swiss, bekerja sebagai instruktur karate sebelum kembali ke Kosovo dan menjadi salah satu pemimpin gerilyawan pro-kemerdekaan.

Konflik terakhir yang menyertai runtuhnya Yugoslavia memakan sekitar 13.500 jiwa. Lebih dari 10.000 korban adalah orang Albania Kosovo.


Editor : Abdul Haris

Halaman : 1 2

KOMENTAR