Kenapa Pelari Kenya Dominasi Maraton Dunia? Ini Penjelasannya

Fitradian Dhimas Kurniawan ยท Minggu, 16 September 2018 - 22:46 WIB
Kenapa Pelari Kenya Dominasi Maraton Dunia? Ini Penjelasannya

Pelari maraton asal Kenya Eliud Kipchoge baru saja memecahkan rekor dunia dengan catatan waktu 2 jam 1 menit 39 detik di ajang Berlin Marathon 2018. (Foto: CBC.ca)

JAKARTA, iNews.id – Pelari maraton asal Kenya Eliud Kipchoge baru saja memecahkan rekor dunia dengan catatan waktu 2 jam 1 menit 39 detik di ajang Berlin Marathon 2018, Minggu (16/9/2018). Selain Kipchoge, posisi tiga besar serta juara di nomor putri juga diisi atlet Kenya.

Tak hanya di Berlin Marathon, atlet Kenya juga kerap menguasai ajang serupa di seluruh permukaan bumi. Saking mendominasinya, tak jarang sebuah event mulai dari juara pertama hingga keempat diisi para pelari asal Kenya.

Menurut data dari jaringan radio internasional NPR, ada 17 orang Amerika yang bisa berlari di bawah 2 menit 10 detik. Namun, ada 32 orang Kenya yang bisa lebih cepat dari itu.

Seperti yang dihimpun dari Quora, kebanyakan pelari Kenya berasal dari satu suku yang sama, yakni Suku Kalenjin dari Lembah Rift Kenya, Afrika Timur. Mereka sanggup berlari dengan kecepatan di atas rata-rata manusia normal.



Antropometri suku Kalenjin sebagai gudangnya juara lari tingkat dunia dinilai memiliki keistimewaan. Mereka memiliki bentuk kaki yang ramping dan tinggi.

Mereka juga memiliki betis yang ringan dan kuat. Beratnya tidak sampai 400 gram atau jika ditotal betis kiri dan kanan beratnya tidak atau hanya mencapai 800 gram.

Pada bagian tendon, suku Kalenjin memiliki tendon tungkak yang lebih panjang sehingga memungkinkan mereka menyimpan dan memproduksi energi pada saat berlari. Hasilnya, mereka dapat menggerakkan kaki secara berulang dengan lebih cepat atau disebut stretch shortening cycle.

Dengan ukuran kaki dan lemak yang tipis, secara logika dapat disimpulkan beban para pelari Kenya pun menjadi lebih ringan. Selain itu, diet sederhana dan berimbang membuat para pelari Kenya terhindar dari masalah kelebihan berat badan.

Lokasi latihan juga menjadi faktor pendukung para pelari Kenya. Kebanyakan atlet Afrika Timur berlatih di dataran tinggi atau pegunungan. Tiga di antara lokasi yang terkenal, yakni Iten, Ngong, dan Nyahururu.



Mereka berlatih di dataran tinggi untuk menempa kemampuan saat berlomba di jalan raya dengan permukaan datar. Lari menanjak hingga ketinggian 2.600 meter dari permukaan laut memiliki manfaat ganda.

Pertama, tentu akan menjadi hal yang mudah saat berlari di medan datar meski sejauh 42.195 kilometer. Kedua, sistem pernapasan mereka lebih terlatih. Setelah berlari di medan pegunungan dengan oksigen yang tipis, mereka dapat menghemat napas dan energi saat berlomba di permukaan datar.

Dari ketiga kamp tersebut, Iten menjadi tempat paling favorit yang kerap diberitakan media massa internasional. Daerah itu berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut sehingga menjadikan Iten tempat yang sangat bagus untuk berlatih.

Begitu banyak atlet papan atas berlatih di Iten dan setelahnya mampu tampil bagus. Berdasarkan laporan sejumlah media, tidak ada fasilitas istimewa di Iten atau kamp pelatihan lari lain di Kenya.

Bahkan, lintasan lari untuk latihan hanya berupa tanah berdebu. Jika diguyur hujan, lintasan langsung tergenang, sepatu pun penuh lumpur. Namun, itulah yang justru melatih kekuatan kaki para pelari.



Latihan yang dilakukan pun tidak main-main. Mereka berlatih sebanyak tiga kali dalam sehari (pagi, siang serta malam). Sekali latihan, mereka menempuh jarak 50 kilometer.

Selain aspek fisik, pelari Kenya juga sudah memiliki mental juara. Untuk membangun mental tersebut, mereka selalu mengalungkan medali emas di leher sesaat sebelum tidur. Begitu pagi tiba, mereka selalu merasa seperti melintasi garis finis sebagai urutan pertama.


Editor : Achmad Syukron Fadillah