Luka Modric, Penggembala Kambing yang Sukses Raih Ballon d'Or 2018

Reynaldi Hermawan · Selasa, 04 Desember 2018 - 21:31 WIB
Luka Modric, Penggembala Kambing yang Sukses Raih Ballon d'Or 2018

Gelandang Real Madrid dan timnas Kroasia Luka Modric mencium trofi Ballon d'Or yang diraihnya pada acara di Grand Palais, Paris, Selasa (4/12/2018) dini hari WIB. (Foto: AFP)

PARIS, iNews.id – Gelandang tim nasional Kroasia dan Real Madrid Luka Modric sukses merengkuh Ballon d’Or 2018 pada acara yang digelar di Grand Palais, Paris, Selasa (4/12/2018) dini hari WIB. Tapi siapa sangka, pria yang baru saja dinobatkan pemain terbaik versi France Football itu merupakan seorang penggembala kambing saat kecil. 
 
Pemain 33 tahun itu menjadi yang terbaik usai mengalahkan striker Juventus Cristiano Ronaldo di tangga kedua serta bomber Atletico Madrid Antoine Griezmann di tempat ketiga. Dengan prestasi tersebut, Modric mengukir sejarah sebagai pesepak bola Kroasia pertama yang berhasil meraih Ballon d’Or. 
 
Bagi mantan penggawa Tottenham Hotspur itu, raihan Ballon d’Or tersebut melengkapi kebahagiaan musim ini setelah sebelumnya menyabet penghargaan pemain terbaik versi FIFA serta pemain terbaik Eropa. 
 
Barangkali, segudang prestasi individu yang diraih Modric saat ini didapat akibat kerja keras yang sudah dilakukannya sejak kecil. Pemain berpostur 177cm itu lahir 9 September 1985 di Desa Modrici, sebelah utara Kota Zadar dari pasangan ayah Stipe Modric dan ibunda Radojka Dopud. 

Modric (10) beraksi bersama timnas Kroasia.  (Foto: The Guardian)

 
Kedua orang tuanya merupakan pekerja di sebuah pabrik rajutan. Akibat kesibukan mereka, Modric kecil lebih banyak diasuh sang kakek. Terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan tak membuat dirinya meratap. 
 
Sejak usia lima tahun, Modric sudah mengembala kambing untuk membantu orang tuanya menyambung hidup. Masa kecilnya sebagai penggembala kambing terekam dalam film dokumenter karya Pavle Balenovic. 
 
Dalam rekaman itu, terlihat jelas kecintaan Modric kecil terhadap dunia sepak bola. Sambil menggembala kambing, kedua kaki mungilnya tetap lincah mengolah si kulit bundar. 
 
Saat usianya enam tahun, Modric kehilangan kakeknya yang tewas akibat dibunuh tentara Serbia. Saat itu, kediamannya memang tengah diwarnai peperangan saudara. Kematian sang kakek jadi tamparan keras untuk Modric, mengingat hubungan kedekatan keduanya. 
 
Kemalangan Modric bertambah setelah kediamannya dibakar tentara Serbia. Akibatnya, mereka sekeluarga pindah ke Kota Zadar dan mengungsi di Hotel. Meski begitu, kecintaan Modric pada sepak bola tidak memudar. Di halaman hotel, dia masih sempat-sempatnya bermain bola. 

Editor : Abdul Haris

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua