PSSI Incar Pelatih Asing, Rahmad Darmawan: Mereka Bukan Jaminan

Reynaldi Hermawan ยท Kamis, 05 Desember 2019 - 16:30 WIB
PSSI Incar Pelatih Asing, Rahmad Darmawan: Mereka Bukan Jaminan

Rahmad Darmawan sewaktu masih menangani PS Tira Persikabo (Foto: Instagram @officialpersikabo)

JAKARTA, iNews.id – Rencana PSSI mendatangkan pelatih asing untuk menangani Timnas Indonesia dikritik oleh Rahmad Darmawan. Menurutnya, keberadaan pelatih asing tidak menjamin prestasi untuk Tim Garuda.

Saat ini PSSI sedang dikaitkan dengan Ruud Gullit, Luis Milla, serta Shin Tae-yong. Salah satu dari mereka akan menggantikan peran Simon McMenemy yang sudah dipecat beberapa waktu lalu.

Namun hal itu dikritisi oleh Rahmad Darmawan. Pelatih yang akrab disapa RD tersebut tak sependapat dengan anggapan pelatih asing bakal menjamin kesuksesan tim nasional.

“Oke sekarang kita panggil Jose Mourinho. Apa ada jaminan level sepak bola kita setara Jepang, Korea, Arab, dalam waktu satu atau dua tahun? Bisa menjamin kita jadi delapan besar Asia? Bahkan apa bisa jaminan juara AFF 2020? Lalu kalau jaminan itu tidak ada, apa urgensinya kita ambil mereka?” kata RD, Kamis (5/12/2019)

“Kita pernah kontrak Pelatih Timnas Piala Dunia Meksiko, Ivan Toplak. Tapi Pra Piala Dunia 1994 dan SEA games 1993 kita gagal. Pernah Ivan Kolev tapi gagal juga. Yang sukses pelatih asing terakhir Anatoly Polosin. Saya pernah empat tahun sebagai pemain bersama beliau. Mainnya jelek, tapi juara SEA games,” ujarnya.

RD justru menyarankan PSSI untuk mengambil pelatih yang sudah mengenal karakter sepak bola Indonesia. Pelatih yang akan datang harus paham bahwa jadwal liga di Indonesia tidak menentu sehingga sulit memanggil pemain untuk pemusatan latihan.

“Menurut saya, pelatih dengan nama besar dan kualitas fokus pada youth development kita. Memberi fundamental teknik, taktik, dan mental pada anak-anak. Lalu federasi memfasilitasi dengan kompetisi berjenjang dan berkualitas. Itu yang sebetulnya kita butuhkan,” tuturnya.

“Soal pelatih timnas, cukup coach Setefano Teco Cugurra, coach Indra Sjafri, dan Coach Fakhri Husaini yang lebih paham dengan kualitas dan budaya sepak bola kita,” kata dia.

Pria yang membawa Persipura Jayapura juara Liga Indonesia 2005 ini juga mengkritik sistem pemusatan latihan Timnas Indonesia. Menurutnya hal tersebut tidak sesuai dengan standar FIFA.

“Saya sering protes terhadap kebijakan pemanggilan pemain timnas dengan waktu lebih lama dari ketentuan FIFA Match day. Karena saya khawatir pelatih akan melakukan improvisasi program. Hal itu berpengaruh pada tingkat kelelahan. Sebab Liga Indonesia main dalam waktu yang tidak tetap (Sabtu-Minggu) seperti Premier League atau La Liga,” ujarnya.

“Contoh, Persebaya Surabaya main tanggal 1 Januari, PS Tira tanggal 2, dan Bali Unied tanggal 3. Kemudian TC dimulai tanggal 4, sementara pertandingan 10 Januari. Dengan begitu, yang main tanggal 1 tidak masalah. Tapi yang main tanggal 2 dan 3 akan jadi masalah. Karena itu TC harus sesuai FIFA match day H-3 dan H+1,” tuturnya.

RD sendiri pernah bekerja di Timnas Indonesia sebagai pelatih sementara atau caretaker pada 2013 silam. Di masa yang sama, dia juga membesut Timnas Indonesia di bawah usia 23 tahun.


Editor : Bagusthira Evan Pratama