Biasa Pakai Internet Gratisan, Ini Bahaya WiFi di Tempat Umum

Dani M Dahwilani ยท Senin, 17 Juni 2019 - 18:45 WIB
Biasa Pakai Internet Gratisan, Ini Bahaya WiFi di Tempat Umum

Ada kesenjangan dalam pengetahuan tentang praktik terbaik dan sehat dalam aktivitas online, termasuk bahaya penggunaan WiFi publik untuk transaksi online. (Foto: cyber-shield)

JAKARTA, iNews.id - WiFi publik saat ini dapat ditemukan di mana saja, di tempat wisata, hotel, restoran dan kedai kopi. Kenyamanan koneksi di tempat umum ini tidak dapat disangkal memudahkan pengguna dalam menikmati konektivitas internet ketika di luar rumah.

Wireless Fidelity (WiFi) publik biasa juga disebut sebagai WiFi gratis, sangat disukai siapa pun. Tapi ingat, sesuatu yang gratis belum tentu dapat menjamin keamanan, malah cenderung dapat merugikan.

Pengguna bisa mendapat ancaman dari eksploitasi WiFi publik, paling umum adalah serangan Man in the Middle (MitM). Di mana seorang peretas bisa mencegat komunikasi antara dua pihak, kemudian mencuri informasi pribadi korban yang dapat disalahgunakan untuk keuntungan mereka.

Dari studi ESET APAC diketahui sebagian besar konsumen memilih secure payment sebagai faktor penting ketika memilih situs untuk belanja online. Namun, konsumen APAC mengindikasikan mereka mungkin tidak siap dalam melindungi informasi tersebut.

Hanya 39 persen responden memastikan transaksi mereka dilakukan di situs yang dapat dipercaya, sebelum melanjutkan transaksi. Hasil penelitian ini menjadi pertanda pengguna internet di kawasan Asia Pasifik sudah terbiasa dalam berbagai aktivitas online.

Namun, ada kesenjangan dalam pengetahuan tentang praktik terbaik dan sehat dalam aktivitas online tersebut, termasuk bahaya penggunaan WiFi publik untuk transaksi online. Kesenjangan antara pengetahuan dan kekhawatiran pembeli serta tindakan mereka adalah masalah yang perlu segera ditangani melalui edukasi berkelanjutan oleh semua stakeholder.

“Kenyataannya adalah jenis hotspot WiFi berbahaya ini dapat ditemukan di banyak tempat umum. Jadi mengambil tindakan pencegahan sangat penting untuk memastikan para penjahat siber tidak mencuri data, kata sandi, memata-matai Anda, dan berbagai skenario jahat lainnya,” ujar IT Security Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh dalam keterangan tertulisnya kepada iNews.id, Senin (17/6/2019).

Yudhi pun berbagi tips keamanan siber yang dapat digunakan semua orang agar terhindar dari peretasan melalui eksploitasi WiFi publik, sebagai berikut:

• Untuk terhubung ke internet saat bepergian atau di tempat umum gunakan fitur hotspot ponsel Anda.
• Jika Anda benar-benar harus terhubung ke jaringan WiFi publik, pastikan untuk terhubung ke yang sah. Terkadang peretas akan membuat jaringan imitasi (kembaran berbahaya atau spoof) untuk menipu Anda agar masuk ke jaringan dengan nama sama. Tidak ada salahnya memverifikasi dengan fasilitas yang tepat untuk terhubung.
• Cobalah untuk menghindari masuk ke layanan sensitif seperti aplikasi perbankan, email atau transaksi online.
• Pertimbangkan untuk menggunakan layanan seluler ponsel cerdas Anda, yang selalu lebih aman daripada WiFi umum.
• Gunakan layanan keamanan dasar, seperti antivirus dan pertimbangkan VPN.
• Jika Anda mencari perangkat lunak keamanan terkemuka, ada banyak yang bagus di luar sana mencakup hampir semua sistem operasi. Misalnya, ESET Smart Security Premium melindungi perangkat Windows dan Mac Anda dari ancaman dunia maya, dan meningkatkan peluang pemulihan jika perangkat Anda hilang atau dicuri (Mac juga rentan terhadap malware/virus).

Bagi yang suka belanja online melalui WiFi publik, Yudhi pun membagikan tips agar terhindar dari peretasan, sebagai berikut:

• Pembeli online harus menghindari penyimpanan informasi pembayaran di portal pengecer, untuk mencegah kemungkinan hilangnya data melalui pelanggaran data.
• Pastikan transaksi dilakukan pada jaringan aman, bukan pada jaringan publik.
• Pembeli online juga harus selalu memastikan situs web tempat mereka transaksi aman, dan mereka ada di situs web resmi pengecer.
• Tautan dari banner iklan berpotensi menyebabkan pembeli online ke situs imitasi pengecer, yang dilakukan dalam upaya mencuri data pribadi dan keuangan.

Editor : Dani Dahwilani