Ternyata, Badai Petir Jupiter Mirip dengan Bumi

Dini Listiyani · Jumat, 08 Juni 2018 - 09:25 WIB
Ternyata, Badai Petir Jupiter Mirip dengan Bumi

Ternyata, Badai Petir Jupiter Mirip dengan Bumi (Foto: JunoCam)

JAKARTA, iNews.id - Petir di Jupiter menjadi sebuah misteri. Namun, berkat penyelidikan Juno, misteri petir tersebut akhirnya terpecahkan.

Data dari probe Jupiter Juno telah mengungkapkan, petir di planet raksasa itu terjadi dalam frekuensi megahertz dan terjadi jauh lebih sering dibandingkan yang dipikirkan. Petir tampaknya terlokalisir ke kutub planet.

Melansir dari Science Alert, Jumat (6/7/2018), temuan terbaru ihwal petir Jupiter tersebut dirinci dalam dua makalah baru yang diterbitkan di journal Nature.

Atmosfer bergejolak Jupiter dipenuhi dengan badai, sehingga bisa dipastikan ada petir di sana. Hal ini telah lama dihipotesiskan dan saat Voyager 1 diterbangkan ke Jupiter pada Maret 1979, probe luar angkasa membenarkannya.

Kemudian, pengamatan lebih lanjut dilakukan Voyager 2, Galileo, dan Cassini. Sinyal radio frekuensi rendah yang terdeteksi Voyager ini dijuluki siulan karena menyerupai nada bersiul yang turun. Tapi, ada sesuatu yang aneh tentang mereka dibandingkan dengan kilat di bumi.

"Tidak peduli planet Anda, petir bertindak seperti pemancar radio, mengirim gelombang radio saat mereka melintas langit," kata ilmuwan Juno Shannon Brown dari Jet Propulsion Laboratory NASA.

"Tapi sampai Juno, semua sinyal petir yang direkam pesawat luar angkasa terbatas baik pada deteksi visual atau rentang kilohertz dari spektrum radio. Banyak teori yang ditawarkan untuk menjelaskannya, tapi tidak ada teori bisa mendapatkan daya tarik sebagai jawabannya," ujarnya.

Kini untuk pertama kalinya, tim Brown telah mendeteksi sinyal radio atmosfer dari petir yang disebut sferics di rentang megahertz dan itu berkat rangkaian instrumen baru dan sangat sensitif Juno.

Secara khusus, Microwave Radiometer Instrument (MWR) itu bisa mendeteksi emisi radio dalam berbagai frekuensi. "Dalam data dari delapan flybys pertama kami, MWR Juno mendeteksi 377 kilat petir," kata Brown.

"Mereka tercatat dalam rentang megahertz serta gigahertz, yang bisa Anda temukan dengan emisi petir. Kami pikir alasan kami merupakan satu-satunya yang bisa melihatnya karena Juno terbang lebih dekat ke pencahayaan dibandingkan sebelumnya, dan kami mencari frekuensi radio yang melewati dengan mudah melalui ionosfer Jupiter," katanya.

Tapi, tim tersebut juga mencatat sesuatu yang tidak seperti di bumi, yakni aktivitas petir terkumpul di sekitar kutubnya. Tidak ada di khatulistiwa.

Tim percaya hal itu ada hubungannya dengan panas. Di bumi, radiasi matahari memberikan kehangatan terbesar ke ekuator planet, sehingga menjadi alasan zona khatulistiwa di antara garis lintang tropis begitu hangat.

Sedangkan di Jupiter, radiasi matahari yang jauh lebih lembut juga memberikan kehangatan terbesar ke ekuator planet, tapi memiliki efek yang berbeda. Ini menstabilkan atmosfer atas planet, sehingga mencegah aliran hangat naik dari bawah.

Kutub-kutub tidak mengalami radiasi penstabil, jadi gas hangat dari interior planet bisa ke atmosfer atas. Para ilmuwan percaya, ini mendorong pergerakan atmosfer yang pada gilirannya menciptakan badai yang luar biasa.

Namun, petir tampaknya lebih umum di belahan bumi utara planet. Untuk itu, para peneliti belum menemukan penjelasan. Tapi yang pasti, cara petir di Jupiter mirip dengan di bumi.

Dalam makalah kedua, para ilmuwan dari Czech Academy of Sciences menyajikan database terbesar dari para penyiar Jovian. Tim ini mencatat lebih dari 1.600 sinyal dibandingkan dengan hanya 167 yang dikumpulkan oleh Voyager 1.

Mereka mendeteksi tingkat puncak dari empat sambaran petir per detik, mirip dengan tingkat yang diamati di badai petir bumi. Voyager mendeteksi puncak hanya satu serangan setiap beberapa detik.

Temuan-temuan ini mewakili pandangan paling rinci dan komprehensif pada petir Jupiter hingga saat ini, dan memberikan petunjuk penting untuk mengetahui dinamika kompleks yang tersembunyi oleh lapisan awan buram planet ini.


Editor : Dini Listiyani