Gara-Gara Bulan Menjauh, Waktu dalam Sehari di Bumi Makin Panjang

Dini Listiyani · Sabtu, 09 Juni 2018 - 10:07 WIB
Gara-Gara Bulan Menjauh, Waktu dalam Sehari di Bumi Makin Panjang

Gara-Gara Bulan Menjauh, Waktu dalam Sehari di Bumi Makin Panjang (Foto: NASA)

JAKARTA, iNews.id - Penyebab waktu dalam sehari di bumi semakin lama, ternyata disebabkan oleh bulan yang perlahan menjauh. Fakta baru itu diungkapkan dalam penelitian terbaru.

Bulan berada di sekitar 239.000 mil dari bumi. Namun karena gaya pasang surut antara planet bumi dan bulan, satelit alami ini perlahan berputar menjauh dari bumi dengan laju sekitar 1,5 inci per tahun.

Menjauhnya bulan dengan bumi menyebabkan planet ini berputar lebih lambat di sekitar porosnya. Dengan menggunakan metode statistik baru yang disebut astrochronology, astronom mengintip ke dalam masa geologis bumi lebih dalam dan merekonstruksi sejarah planet.

Pekerjaan ini mengungkap, 1.4 miliar tahun yang lalu bulan secara signifikan lebih dekat ke bumi, yang membuat planet berputar lebih cepat. Akibatnya, menurut pernyataan dari University of Wisconsin-Madison, waktu satu hari di bumi hanya bertahan lebih dari 18 jam saat itu.

"Karena bulan bergerak menjauh, bumi bagaikan seorang skater yang berputar melambat saat mereka merentangkan tangan. Salah satu ambisi kami ialah menggunakan astrochronology untuk memberitahu waktu di masa lalu yang paling jauh untuk mengembangkan skala waktu geologi yang sangat kuno. Kami ingin bisa mempelajari batuan yang berusia miliaran tahun dengan cara yang sebanding dengan cara kami belajar proses geologi modern," kata rekan penulus studi Stephen Meyers yang dilaporkan Space, Sabtu (9/6/2018).

Astrochronology menggabungkan teori astronomi dengan pengamatan geologi, sehingga memungkinkan para peneliti merekonstruksi sejarah tata surya dan lebih memahami perubahan iklim kuno seperti yang tercatat dalam rock record.

Bulan dan bodies lain di tata surya sangat memengaruhi rotasi bumi, menciptakan variasi orbital yang disebut siklus Milankovitch. Variasi ini pada akhirnya menentukan di mana sinar matahari didistribusikan di bumi, berdasarkan rotasi dan kemiringan planet.

Ritme iklim bumi ditangkap dalam rock record, kembali ratusan juta tahun. Namun, terkait masa lalu kuno planet ketiga dari matahari, kata para peneliti, catatan geologis ini cukup terbatas. Hal ini bisa menyebabkan ketidakpastian dan kebingungan.

Dengan menggunakan metode statistik baru mereka, para peneliti mampu mengimbangi ketidakpastian dari waktu ke waktu. Pendekatan ini diuji pada dua lapisan batuan startigrafi, yakni Xiamaling Formation berusia 1,4 miliar tahun dari China Utara dan record berusia 55 juta tahun dari Walvis Ridge di Samudera Atlantik Selatan.

Memeriksa catatan geologis yang ditangkap di lapisan batuan dan mengintegrasikan ukuran ketidakpastian mengungkapkan perubahan dalam rotasi, orbit, dan jarak bumi dari bulan sepanjang sejarah, serta bagaimana lamanya hari di bumi terus meningkat.

"Rekaman geologis merupakan sebuah observatorium astronomi untuk tata surya awal. Kami melihat irama yang berdenyut, diawetkan di batu, dan sejarak kehidupan," katanya Meyers.


Editor : Dini Listiyani