Ngeri, 5 Orang Digantung di India Gara-Gara Rumor WhatsApp

Dini Listiyani · Selasa, 03 Juli 2018 - 12:51 WIB
Ngeri, 5 Orang Digantung di India Gara-Gara Rumor WhatsApp

Kasus kekerasan terjadi di India. (Foto: Engadget)

DHULE, iNews.id - Berita palsu bisa menjadi masalah serius di berbagai negara. Sebanyak lima orang dilaporkan tewas dalam hukuman mati yang dipicu desas-desus perdagangan anak online.

The Times of India mengatakan polisi percaya, rumor menyebabkan penduduk desa membunuh kelompok tersebut setelah salah satu dari mereka berbicara kepada seorang anak.

Melansir Engdget, Selasa (3/7/2018), kasus ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian insiden kekerasan di negara yang telah menyebabkan 12 orang tewas selama sebulan terakhir, semuanya terkait dengan pesan palsu di media sosial, terutama yang menyebar di WhatsApp.

Sebagian besar pelakunya merupakan penduduk desa dan banyak yang menggunakan smartphone untuk pertama kalinya, yang dihasut oleh rumor yang menyebutkan orang-orang tertentu merupakan perdagangan anak.

Pihak berwenang setempat telah berusaha untuk memerangi penyebaran berita palsu dengan memperingatkan penduduk, bahkan membayar artis jalanan dan pemburu rumor untuk mengunjungi desa-desa dan memberitakan hati-hati.

Sentimen publik yang melonjak dan pembunuhan yang mendorong 650.000 minoritas Muslim Rohingya Myanmar keluar dari negara tersebut, didorong oleh hate speech yang menyebar online, terutama melalui Facebook.

Kurang dari satu persen penduduknya memiliki akses internet pada 2104, tapi sekarang seperempat dari 53 juta penduduk Myanmar menggunakan Facebook. Mengingat adopsi dan penggunaan yang cepat oleh pemerintah untuk menyampaikan pesan publik, tak heran para ahli hak asasi manusia PBB percaya, jaringan sosial memainkan peran dalam penyebaran hate speech.

Dalam beberapa hari terakhir, WhatsApp, layanan pesan online milik Facebook telah memberikan kontrol ke administrasi grup yang anggotanya bisa mem-posting pesan.

"WhatsApp bekerja untuk membuatnya jelas saat pengguna telah menerima informasi yang diteruskan dan memberikan kontrol kepada administrator grup untuk mengurangi penyebaran pesan yang tidak diinginkan dalam obrolan pribadi," kata juru bicara WhatsApp.


Editor : Tuty Ocktaviany