Studi Baru Selidiki Penyakit Misterius yang Serang Manusia di Bulan

Dini Listiyani ยท Sabtu, 07 Juli 2018 - 10:07 WIB
Studi Baru Selidiki Penyakit Misterius yang Serang Manusia di Bulan

Studi Baru Selidiki Penyakit Misterius yang Serang Manusia di Bulan (Foto: NASA)

CALIFORNIA, iNews.id - Penyakit misterius telah menjangkit setiap manusia yang berjalan di bulan. Kini, para peneliti berharap bisa mengetahui seberapa berbahayanya penyakit tersebut.

Penyakit misterius yang disebut 'lunar hay fever' itu menyerang para astronot yang mengijakkan kaki di bulan. Gejalanya, mulai dari bersin hingga hidung tersumbat.

Sayangnya, para peneliti tidak bisa menentukan dengan tepat apa yang menyebabkan gejala atau seberapa beracun penyakit tersebut sebenarnya. Peneliti malah menunjukkan, tanah bulan tiruan bisa menghancurkan paru-paru dan sel otak setelah terpapar dalam jangka panjang.

"Kami tidak tahu seberapa buruk debu ini," kata seorang ahli fisiologi paru dari University of California Kim Prisk, sebagaimana dilaporkan Daily Mail, Sabtu (7/7/2018).

Semuanya bermuara pada upaya untuk memperkirakan tingkat risiko yang terlibat untuk misi di masa depan. Di bulan, debu begitu kasar sehingga memakan lapisan sepatu antariksa dan menghancurkan segel vakum sample container Apollo.

Peneliti tahu debu bulan memiliki silikat di dalamnya, bahan yang biasa ditemukan di body planet dengan aktivitas gunung berapi. Penambang di bumi menderita paru-paru dan terluka karena menghirup silikat.

Gravitasi yang rendah di bulan memungkinkan partikel kecil untuk tetap menempel lebih lama dan menembus lebih dalam ke paru-paru.

"Partikel 50 kali lebih kecil dari rambut manusia bisa bertahan selama berbulan-bulan di dalam paru-paru Anda. Semakin lama partikel mengendap, maka makin besar kesempatan untuk efek beracun," ujarnya.

Kerusakan potensial menghirup debu ini tidak diketahui. Tapi peneliti menunjukkan, tanah bulan tiruan bisa menghancurkan paru-paru dan sel otak setelah terpapar dalam jangka waktu yang lama.

Di bumi, partikel halus cenderung menghalus selama bertahun-tahun erosi oleh angin dan air. Namun, debu di bulan tidak. Debu tidak bulat melainkan tajam dan runcing.

Selain itu, bulan tidak memiliki atmosfer dan terus-menerus dibombardir oleh radiasi matahari yang menyebabkan tanah menjadi bermuatan elektrostatis. Muatan ini bisa begitu kuat, sehingga debu melayang di atas permukaan bulan, membuatnya lebih mungkin masuk dalam peralatan dan paru-paru manusia.

Untuk mengujinya, Badan Antariksa Eropa, ESA akan menggunakan debu bulan tiruan yang ditambang dari daerah vulkanik di Jerman. Bekerja dengan tiruan bukan sesuatu yang mudah.

"Kelangkaan bahan seperti kaca bulan membuatnya menjadi jenis debu khusus. Kita perlu menggiling bahan sumber, tapi itu artinya menghilangkan ujung yang tajam," kata ahli biologi dan ahli dalam keracunan debu Erin Tranfield.


Editor : Dini Listiyani