Manfaat Big Data Selama Piala Dunia 2018

Dani M Dahwilani · Minggu, 08 Juli 2018 - 18:04 WIB

Selain investasi, keseruan dan partisipasi Piala Dunia 2018, ada banyak data tertimbun yang dapat dimanfaatkan. (Foto: NetApp)

JAKARTA, iNews.id – Jumlah data yang dapat dimanfaatkan dalam ajang Piala Dunia 2018 bisa mencapai volume yang tak terbayangkan. Jika perusahaan dan analis dapat memanen dan memanfaatkan data dengan baik, hal tersebut dapat menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi mereka.
 
Google contohnya, mereka memiliki tim terdedikasi untuk memberikan insight dan wawasan terkait FIFA dengan memanfaatkan data penulusuran secara real-time untuk mengkurasi fakta dan visual yang mudah dibagikan untuk dinikmati para pengguna.

Pada periode Juni - Juli 2018, sebanyak 64 pertandingan Piala Dunia 2018 disiarkan kepada sekitar 3,2 miliar penonton di seluruh dunia. FIFA telah menghabiskan 241 juta dolar AS (sekitar Rp3,4 triliun) untuk memastikan orang-orang di seluruh dunia memiliki kesempatan mengikuti pesta sepak bola tersebut.

Lebih dari itu, ajang Piala Dunia juga mencatatkan angka yang mencengangkan terkait investasi iklan secara global, dengan estimasi belanja iklan dari berbagai brand dan bisnis mencapai 2,4 miliar dolar AS (sekitar Rp34 triliun).

Di luar investasi, keseruan dan partisipasi Piala Dunia di seluruh dunia, ada banyak data tertimbun yang dapat dimanfaatkan.

Bagaimana big data analytic dapat berperan dalam memastikan seluruh data ini dapat dikonversi menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti? NetApp telah mengidentifikasi tiga cara bagaimana data-data ini dapat dimanfaatkan:

NettApp
1. Meningkatkan Performa Pemain

Memanfaatkan big data analytic, tiap tim dapat dengan mudah meningkatkan performa pemain dalam pertandingan. Di ajang Piala Dunia 2014, tim sepak bola Jerman bekerja sama dengan SAP untuk mengembangkan database yang mencakup wawasan dari berbagai pertandingan yang membantu mereka dalam pola latihan dan strategi untuk memenangkan ajang Piala Dunia.

Empat tahun berjalan, tim Jerman terus memanfaatkan big data untuk memperbarui pola latihan mereka, dengan harapan meraih bintang kelima untuk tim nasional mereka. Sayang, nasib belum berpihak kepada mereka di tahun ini.

Meski demikian, dengan begitu banyak tim-tim baru yang memperlihatkan hasil yang baik, tidak aneh jika banyak tim yang mulai mengikuti Jerman memanfaatkan big data analytic untuk meningkatkan performa mereka.

2. Media Insight Secara Real Time

Hal yang menarik adalah tim sepak bola bukanlah satu-satunya yang dapat menikmati manfaat dari big data analytic pada Piala Dunia. Media publikasi juga dapat memanfaatkan Big Data. Biasanya dalam 24 jam sebelum pertandingan dimulai, media akan menyiapkan berbagai insight atau wawasan terkait tim yang bertanding.

Hal ini bisa mencakup sejarah pertandingan sebelumnya, pemain-pemain yang perlu diperhatikan dan peringkat. Volume insight dan wawasan yang sedemikian tinggi dapat menjadi hal yang berharga untuk media seiring dengan upaya mereka untuk menghadirkan liputan yang paling seru untuk ajang ini.

Sebagai contoh, data dapat dikumpulkan untuk membangun hype dan mendorong penonton untuk menyaksikan. Berbagai prediksi dapat ditampilkan secara interaktif dalam format digital, yang diarahkan para analis. Media juga dapat secara konsisten memberikan data secara real-time terkait pertandingan, agar materi komentator dapat disiapkan dengan baik seiring jalannya pertandingan.

Pemanfaatan Big Data seperti ini akan memberikan penonton di seluruh dunia kesempatan benar-benar merasakan demam Piala Dunia sepenuhnya, di manapun mereka berada.

3. Memanfaatkan Analisa Performa Historis

Analis pertandingan juga sudah mulai melihat bagaimana hasil para tim nasional di ajang Piala Dunia dan turnamen lain sebelumnya. Bahkan, dengan sistem peringkat Elo Rating baru yang menilai para tim, mereka dapat memformulasikan sebuah model prediktif yang nyaris akurat memprediksikan pemenang Piala Dunia berikutnya!

Selain memprediksi tim pemenang, para analis juga dapat meramalkan apakah tim tertentu akan lolos menuju 16 besar. Model ini pertama kali diadopsi di ajang Olimpiade pada 2012, di mana para analis dari Goldman Sachs memprediksi jumlah medali yang akan diraih oleh negara tuan rumah, Inggris. Prediksi tersebut ternyata 95 persen akurat.

Ajang Piala Dunia menyoroti peranan data analytic yang kian semakin penting di mata dunia saat ini. Di seluruh dunia bisnis, mulai dari farmasi, manufaktur sampai industri keuangan internasional, para manager tengah menjelajahi cara-cara di mana data analytic atau Big Data dapat membantu mereka meningkatkan efisiensi operasional dan meningkatkan keuntungan.

Menurut Uni Eropa, Big Data tengah bertumbuh sebesar 40 persen per tahun, tujuh kali lebih lebih cepat dibandingkan dengan sektor TIK lainnya. Pasar layanan dan teknologi Big Data secara global dinilai mencapai 21,19 miliar dolar AS (sekitar Rp300 triliun) pada 2017 dan diperkirakan mencapai 77,58 miliar dolar AS pada tahun 2023, dengan estimasi laju CAGR sebesar 24,15 persen.

Melalui jumlah data yang bertumbuh dan tersebar di seluruh dunia, NetApp dapat menyediakan solusi pengelolaan data yang aman dan efisien kepada penyedia layanan atau vendor sesuai kebutuhan. Contohnya, jajaran NetApp E-Series merupakan solusi yang sempurna untuk penyedia layanan atau vendor yang mencoba menyiarkan ajang Piala Dunia karena jajaran solusi ini dapat memberikan lingkungan dengan bandwidth tinggi untuk para media dan perusahaan penyiaran, dengan keamanan data dan tingkat redundancy yang superior untuk mencegah kelalaian dan kegagalan.


Editor : Dani Dahwilani

KOMENTAR