Ilmuwan Temukan Harapan Baru Penemuan Kehidupan di Luar Bumi

Dini Listiyani · Selasa, 10 Juli 2018 - 09:45 WIB

Ilmuwan Temukan Harapan Baru Penemuan Kehidupan di Luar Bumi (Foto: NASA)

CALIFORNIA, iNews.id - Bakteri yang mampu bertahan terhadap bahan kimia asin di Mars berhasil ditemukan para ilmuwan. Penemuan ini membuat manusia makin dekat untuk menemukan kehidupan di Planet Merah.

Bakteri ditemukan mampu hidup di suhu ekstrem dan zat kimia yang disebut perklorat. Bakteri yang ditemukan, mungkin juga bisa bertahan hidup di Pluto dan bulan-bulan yang mengorbit Saturnus dan Jupiter.

Penemuan lautan bawah dari permukaan bulan Jupiter Europa, bahan organik di Mars, dan lubang hidrotermal di lautan Enceladus menunjukkan, kemungkinan ada kehidupan di tempat lain. Namun, kehidupan seperti itu harus bisa tahan terhadap lingkungan ekstrem.

Peneliti dari Technical University of Berlin, Tufts University, Imperial College London, dan Washington State University telah menguji ketahanan bakteri yang hidup di bumi yang disebut Planococcus Halocryophilus.

Para ilmuwan membawa bateri ke sodium, magnesium, dan kalsium klorida, serta perklorat. Bahan kimia ini, yang secara signifikan menurunkan titik beku air, beracun dalam konsentrasi tinggi.

Peneliti ingin mengetahui apakah dan konsentrasi apa bisa membunuh bakteri. Mereka menemukan, tingkat kelangsungan hidup bakteri di perklorat memang jauh lebih rendah dibandingkan semua senyawa lainnya.

Namun, menurut Jacob Heinz dari Technical University of Berlin, kehadiran zat kimia tidak menghalangi kehidupan di Mars atau tempat lainnya.

"Bakteri dalam sepuluh persen solusi perklorat massa masih bisa tumbuh," katanya seperti dilaporkan Daily Mail, Selasa (9/7/2018).

Permukaan tanah Mars mengandung kurang dari satu persen perklorat. Suhu rata-rata di Mars sekitar -60 derajat Celsius dengan suhu di kutub turun ke -125 derajat Celsius.

Para peneliti menguji bakteri melalui berbagai siklus pembekuan atau pencairan mulai 25 derajat Celsius hingga -50 derajat Celsius.

Menurut mahasiswa Ph.D di Arizona State University's School of Earth and Space Exploration Theresa Fisher, tempat seperti Gurun Atacama di Chili dan sebagian Antartika memiliki tingkat perklorat yang relatif tinggi.

Bakteri, kata Fisher, saat stres memiliki respons yang mengejutkan. Bakteri memproduksi protein khas yang membantu mereka menyesuaikan, bertahan hidup, dan mengatasi lingkungan yang merugikan.

"Kita harus mencoba untuk tidak memihak dalam mengasumsikan apa yang diperlukan suatu organisme untuk berkembang, bukan hanya bertahan hidup," katanya.

Variabel lain yang mempengaruhi pencarian kehidupan, seperti kemampuan bakteri untuk menahan radiasi atau tekanan atmosfer yang ekstrem.


Editor : Dini Listiyani

KOMENTAR