Angkatan Udara AS Garap Setelan Iron Man

Dini Listiyani ยท Kamis, 12 Juli 2018 - 05:58 WIB
Angkatan Udara AS Garap Setelan Iron Man

Para peneliti mengembangkan teknologi karbon, termasuk setelan Iron Man. (Foto: Dailymail)

SAN FRANCISCO, iNews.id - Laboratorium Penelitian Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) sedang menggarap setelan yang bisa mengisi daya ponsel Anda. Pengembangan ini dibantu oleh para engineer di University of Cincinnati.

Para peneliti mengembangkan sejumlah besar teknologi karbon, termasuk setelan Iron Man yang bisa menyimpan power dalam carbon nanotubes. Mereka mengatakan, teknologi bisa mengubah segalanya seperti setelan menjadi pesawat tempur.

Peneliti mengembangkan nanotubes pada wafer silikon berukuran seperempat di bawah panas dalam ruang vakum melalui proses yang disebut deposisi uap kimia. Mereka kemudian merenggangkan fiber persegi kecil di atas gulungan industri di laboratorium.

"Ini persis seperti tekstil. Kami bisa merakitnya seperti benang mesin dan menggunakannya dalam berbagai aplikasi mulai dari sensor untuk melacak logam berat dalam air atau perangkat penyimpan energi, termasuk kapasitor super dan baterai," kata profesor UC Vesselin Shanov, Co-director UC's Nanoworld Laboratories, dirilis dari Dailymail, Kamis (12/7/2018).

Untuk militer, ini bisa berarti mengganti baterai berat yang men-charge sejumlah elektronik membentuk muatan tentara seperti lampu, penglihatan malam, dan perlengkapan komunikasi.

"Sebanyak sepertiga dari berat yang mereka bawa hanya baterai untuk menggerakkan semua peralatan mereka. Jadi jika kita bisa memangkasnya sedikit, itu merupakan keuntungan besar bagi mereka di lapangan," kata Mark Haase, orang yang menghabiskan waktunya untuk menjelahi penggunaan untuk carbon nanotubes di Air Force Research Lab of Wright-Patterson.

Kendati demikian, teknologi semacam ini masih terlalu mahal untuk digunakan secara luas. "Kami bekerja dengan klien yang lebih peduli tentang kinerja dibandingkan biaya. Tapi begitu kami menyempurnakan sintesis, skala naik cukup dan biaya harus turun dengan sesuai," ujarnya.

"Kemudian, kita akan melihat carbon nanotube menyebar ke banyak aplikasi," katanya.

Untuk saat ini, lab UC bisa menghasilkan sekitar 50 meter benang carbon nanotubes pada suatu waktu untuk penelitiannya.

"Masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan proses. Menarik serat carbon nanotubes dari cakram silikon baik untuk penelitian skala laboratorium, tetapi tidak untuk membuat pesawat terbang atau setelan penerbangan. Satu-satunya yang menahan kami ialah memecahkan kode untuk membuat carbon nanotube dalam skala besar," kata pemimpin Materials and Manufacturing Directorate di the Air Force Research Laboratory Benji Maruyama.

Maruyama mencoba memecahkan masalah dengan serangkaian eksperimen yang dilakukannya menggunakan robot penelitian otonom yang disebut ARES.

Robot mendesain dan melakukan eksperimen dengan carbon nanotube, menganalisis hasil, kemudian menggunakan data, serta kecerdasan buatan untuk mendefinisikan kembali parameter untuk percobaan berikutnya.

Dengan cara ini, katanya, dia bisa melakukan 100 kali lebih banyak percobaan dalam waktu yang sama dengan penelitian manusia.


Editor : Tuty Ocktaviany