Deteksi Peningkatan Sinar Kosmik, Voyager 2 Dekati Batas Interstellar

Dini Listiyani ยท Selasa, 09 Oktober 2018 - 05:30 WIB
Deteksi Peningkatan Sinar Kosmik, Voyager 2 Dekati Batas Interstellar

Voyager 2 Deteksi Peningkatan Telltale di Radiasi Kosmik (Foto: NASA)

Facebook Social Media Twitter Social Media Google+ Social Media Whatsapp Social Media

CALIFORNIA, iNews.id - Voyager 2 semakin mendekati batas interstellar. Sebab, pesawat luar angkasa ini mulai mendeteksi peningkatan yang sama dalam radiasi kosmik yang menghantam Voyager 1, tepat sebelum akhirnya memasuki ruang interstellar.

Voyager 2 diluncurkan dua minggu sebelum Voyager 1 pada 1977. Voyager 1 berada di lintasan yang lebih pendek dan berhasil mencapai Jupiter dan Saturnus lebih dulu.

Saat Voyager 2 menerima bantuan gravitasi dari Jupiter, Saturnus, dan Uranus, flyby Neptunus justru memperlambatnya, sehingga membuat pesawat luar angkasa tertinggal jauh.

Ketika kedua probe melanjutkan perjalanan epik mereka pada 25 Agustus 2012, Voyager 1 secara resmi melintasi perbatasan antara tata surya dan luar angkasa di luarnya sehingga menjadikan obyek buatan manusia ini menuju ke ruang interstellar.

Kini, Voyager 2 siap untuk menjadi yang kedua masuk ke interstellar. Tekanan di luar angkasa rendah. Sepanjang tata surya, angin dari Matahari memberi tekanan keluar.

Pada titik tertentu, angin tidak lagi cukup kuat mendorong balik luar angkasa interstellar. Titik itu, yang terletak sekitar 123 unit astronomi dari Matahari disebut heliopause.

Di satu sisi ada heliosfer, gelembung tata surya yang diukir oleh angin Matahari. Di sisi lain ialah sisa alam semesta yang menakutkan.

Voyager 2 telah melakukan perjalanan melalui heliosfer luar sejak 2007, saat melintasi penghentian kejut. Probe saat ini sekitar 118 AU dari Matari.

"Sejah akhir Agustus, instrumen Cosmic Ray Subsystem pada Voyager 2 telah mengukur sekitar lima persen peningkatan tingkat sistem kosmik yang menabrak pesawat luar angkasa dibandingkan awal Agustus. Instrumen Low-Energy Charged Particle telah mendeteksi peningkatan serupa pada sinar kosmik berenergi lebih tinggi," tulis NASA dalam sebuah pengumuman yang dilaporkan Scince Alert, Selasa (9/10/2018).

Cosmic ray merupakan partikel subatom, terutama inti hidrogen dan helium yang memperbesar luar angkasa pada kecepatan yang sangat tinggi. Diperkirakan banyak cosmic ray berhenti atau melambat pada heliopause oleh angin matahari, sehingga menciptakan semacam sinar kosmik.

Pada Mei 2012, sekitar tiga bulan sebelum melintasi heliopause, Voyager 1 melihat peningkatan serupa pada sinar kosmik. Tapi, kesamaan antara dua pengalaman probe tidak berarti Voyager 2 akan menyebrang. Sebab, tata surya sedikit mengembang dan berkontraiksi selama siklus surya 11 tahun.

Saat matahari berada di minimum, tingkat aktivitasnya rendah dan angin matahari lebih lambat. Pada maksimum, angin matahari secara signifikan lebih kuat.


Editor : Dini Listiyani