Melupakan Sesuatu Butuh Banyak Kekuatan Otak Dibanding Mengingat

Dini Listiyani ยท Kamis, 14 Maret 2019 - 06:43 WIB
Melupakan Sesuatu Butuh Banyak Kekuatan Otak Dibanding Mengingat

Banyak orang mencoba melupakan masa lalu. (Foto: Blacdovfx/iStock)

JAKARTA, iNews.id - Sebagian orang cenderung memilih menyangkal dan tidak mengingat kejadian buruk yang pernah terjadi dalam kehidupannya. Padahal, sengaja melupakan sesuatu memperberat kerja otak.

Sebuah studi yang dipimpin oleh para ilmuwan di Texas menunjukkan tindakan yang sengaja dilupakan ada kaitannya dengan peningkatan keterlibatan otak akan informasi yang tidak diinginkan tersebut. Dengan kata lain, untuk melupakan sesuatu seseorang harus benar-benar fokus padanya.

"Tingkat aktivitas otak yang moderat sangat penting untuk mekanisme melupakan. Terlalu kuat dan itu akan memperkuat memori. Terlalu lemah, Anda tidak akan memodifikasinya," kata psikolog Tracy Wang dari University of Texas at Austin, dilansir dari  Sciencealert, Kamis (14/3/2019).

Berusaha secara aktif melupakan ingatan yang tidak diinginkan tak hanya membantu mencegah otak Anda dari kelebihan beban. Tapi memungkinkan orang beralih dari pengalaman dan emosi yang menyakitkan dan tidak suka mereka ingat.

"Kita mungkin ingin membuang ingatan yang memicu respons maladaptif, seperti ingatan traumatis, sehingga kita bisa merespons pengalaman baru dengan cara yang lebih adaptif. Beberapa dekade penelitian telah menunjukkan kita memiliki kemampuan secara sukarela melupakan sesuatu, tapi bagaimana otak kita melakukan itu masih dipertanyakan," kata salah satu peneliti, Jarrod Lewis-Peacock.

Banyak penelitian sebelumnya mengenai melupakan dengan sengaja berfokus pada aktivitas otak di korteks prefrontal dan pusat memori otak, hippocampus. Dalam studi baru, para peneliti memantau bagian otak yang berbeda yang disebut ventral temporal cortex, yang membantu manusia memproses dan mengategorikan rangsangan visual.

Dalam sebuah eksperimen dengan 24 orang dewasa muda yang sehat, para peserta diperlihatkan gambar pemandangan dan wajah orang. Mereka diperintahkan untuk mengingat atau melupakan setiap gambar.

Selama percobaan, aktivitas otak mereka dipantau oleh mesin functional magnetic resonance imaging (fMRI). Saat para peneliti memeriksa aktivitas di korteks ventral temporal, mereka menemukan tindakan melupakan secara efektif menggunakan lebih banyak kekuatan otak dibanding mengingat.

"Gambar yang diikuti dengan instruksi lupa menghasilkan tingkat pemrosesan yang lebih tinggi di korteks vertal temporal dibandingkan instruksi mengingat. Peningkatan dalam pemrosesan ini menyebabkan lebih banyak melupakan, terutama untuk item yang menunjukkan aktivitas sedang," kata para penulis dalam paper mereka.

Tentu saja, melupakan gambar tertentu dalam percobaan laboratorium yang dibuat sangat berbeda dengan kenangan menyakitkan atau traumatis dari peristiwa yang dialami di dunia nyata. Tapi, kata peneliti, mekanisme kerja bisa sama.

Selain itu, para peneliti menemukan cara mengaktifkannya yang bisa menjadi manfaat besar bagi orang-orang di seluruh dunia yang perlu melupakan sesuatu, tapi tidak mengetahui caranya.

"Yang penting, niat untuk melupakan itu meningkatkan aktivitas memori. Saat aktivitas ini menyentuh sweet spot tingkat moderat, berarti itulah momen melupakan pengalaman tersebut," ujarnya.


Editor : Tuty Ocktaviany