Misi Luar Angkasa Berdurasi Lama Sebabkan Nyeri Punggung pada Astronot

Dini Listiyani ยท Senin, 14 Januari 2019 - 05:45 WIB
Misi Luar Angkasa Berdurasi Lama Sebabkan Nyeri Punggung pada Astronot

Astronot (Foto: NASA)

CALIFORNIA, iNews.id - Rencana misi jangka panjang untuk mengirim astronot ke Bulan dan Mars dihantui oleh isu kesehatan. Sebuah penelitian mengungkapkan fakta yang kurang menyenangkan soal dampak misi tersebut.

Astronot yang menghabiskan beberapa bulan di International Space Station (ISS) mengalami pengurangan signifikan dalam ukuran dan kepadatan otot-otot kunci di tulang belakang mereka setelah kembali ke Bumi. Masalah ini menambah daftar panjang soal dampak astronot melakukan misi jangka panjang.

Menurut penelitian baru oleh Katelyn Burkhart, Ms dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan rekannya, perubahan komposisi otot masih ada hingga empat tahun setelah spaceflight jangka panjang. Perubahan yang disebabkan oleh spaceflight dalam morfologi otot paraspinal bisa berkontribusi pada nyeri punggung yang biasa dilaporkan para astronot.

Para peneliti menganalisis computed tomography (CT) scan lumbar (bawah) tulang belakang 17 astronot dan kosmonot yang melakukan misi di ISS. Scan yang diperoleh sebelum dan sesudah misi dianalisis untuk menentukan perubahan dalam ukuran dan komposisi otot paraspinal. Waktu rata-rata yang dihabiskan astronot di luar angkasa ialah enam bulan.

CT scan menunjukkan adanya pengurangan ukuran otot paraspinal setelah spaceflight. Untuk individu, ukuran otot menurun sebesar 4.6-8.8 persen. Dalam scan tindak lanjut yang dilakukan satu tahun kemudian, ukuran kembali setidaknya kembali ke normal untuk semua otot, tapi menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam jumlah jaringan lemak yang ada di otot paraspinal.

Dengan demikian, kepadatan otot para astronot berbanding terbalik dengan kadar lemak menurun 5.9-8.8 persen. Untuk sebagian besar otot, komposisi kembali normal satu tahun. Namun, untuk dua otot yakni quadratus lumborum dan psoas, kadar lemak tetap di atas nilai pre-flight bahkan dua hingga empat tahun setelah astronot kembali dari luar angkasa.

Beberapa perubahan otot paraspinal tampaknya dipengaruhi oleh olahraga, menunjukkan kemungkinan pendekatan untuk mencegah efek buruk dari penerbangan luar angkasa yang berkepanjangan pada kesehatan dan fungsi tulang belakang.

"Saat NASA merencanakan misi masa depan ke Mars dan seterusnya, hasil ini bisa digunakan untuk memandu tindakan pencegahan di masa depan agar mengurangi morfologi otot batang dan defisit fungsional terkait," kata Burkhart dan rekan penulis yang dikutip dari Daily Mail, Senin (14/1/2019).


Editor : Dini Listiyani