Pergi ke Luar Angkasa, Astronot Berpotensi Terserang Herpes

Dini Listiyani ยท Selasa, 19 Maret 2019 - 18:16 WIB
Pergi ke Luar Angkasa, Astronot Berpotensi Terserang Herpes

Pergi ke luar angkasa, astronot berpotensi terserang herpes (Foto: WikiImages/ Pixabay)

CALIFORNIA, iNews.id- Penyakit herpes ternyata tidak hanya bisa menjangkit manusia di Bumi, tapi juga di luar angkasa. Badan antariksa Amerika Serikat (AS) NASA telah mengeluarkan peringatan terkait virus tersebut.

NASA mengeluarkan peringatan terkait herpes luar angkasa setelah sebuah studi menemukan virus aktif kembali pada awak di atas pesawat ulang-alik dan misi International Space Station (ISS). Menurut NASA, meski hanya sebagian kecil dari astronot yang mengembangkan gejala sebagai akibat dari kebangkitan virus yang tidak aktif, penyakit bisa menimbulkan bahaya bagi misi penerbangan luar angkasa yang lebih lama, misalnya Mars.

"Para astronot NASA bertahan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan yang terpapar microgravity dan radiasi kosmik, belum lagi kekuatan G yang esktrem saat lepas landas dan masuk kembali. Tantangan fisik ini diperparah oleh stresor yang lebih akrab seperti pemisahan sosial, pengurungan, dan siklus tidur-bangun yang berubah," kata Penulis Senior Paper dan Akademik di Johnson Space Center Dr Satish Mehta.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Microbiology dan membahas pengaktifan kembali virus, bukan yang baru berkembang di luar angkasa. Sistem medis menyeluruh NASA mengukur dampak fisiologis pesawat luar angkasa dengan menganalisis air liur, darah, dan urin para astronot di seluruh angkasa.

"Selama penerbangan luar angkasa terjadi peningkatan sekresi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang dikenal menekan sistem kekebalan tubuh. Sesuai dengan ini, kami menemukan sel-sel kekebalan astronot, terutama yang biasanya menekan dan menghilangkan virus, menjadi kurang efektif selama penerbangan luar angkasa dan terkadang hingga 60 hari setelahnya," kata studi yang dilaporkan oleh Sky News, Selasa (19/3/2019).

Karena 'penindasan' sistem kekebalan ini, tubuh astronot kurang mampu menjaga virus tidak aktif, memungkinkan mereka mengaktifkan kembali.

"Sampai saat ini, 47 dari 89 (53 persen) astronot pada penerbangan ulang-alik pendek, dan 14 dari 23 (61 persen) pada misi ISS yang lebih lama melepaskan virus herper dalam sampel air liur atau urin mereka. Frekuensi ini, pelepasan virus secara nyata lebih tinggi dibanding sampel sebelum atau setelah penerbangan, atau dari kontrol sehat yang cocok. Hanya enam astronot yang mengalami gejala apa pun karena reaksi virus," kata Mehta.

Terdapat delapan virus herper yang diketahui, termasuk jenis cacar air, yang pernah tertular akan tetap berada dalam sel saraf inang mereka sepanjang hidup. Sebagian besar dari mereka tetap ditekan oleh sistem kekebalan tubuh.

Tapi, jika sistem kekebalan tubuh itu sendiri ditekan oleh eksplorasi luar angkasa, maka bisa menimbulkan risiko yang signifikan bagi para astronot yang bepergian ke Mars atau bagian luar angkasa lainnya. Penelitian ini menemukan semakin lama misi spaceflight, maka banyak virus yang diaktifkan kembali.


Editor : Dini Listiyani