Tips Belanja dan Bepergian Aman saat Gunakan Transaksi Digital

Vien Dimyati ยท Sabtu, 27 Juni 2020 - 09:59 WIB
Tips Belanja dan Bepergian Aman saat Gunakan Transaksi Digital

Tips aman belanja dengan menggunakan transaksi digital (Foto: Business Standard)

JAKARTA, iNews.id - Selama masa pandemi Covid-19, masyarakat mulai beralih melakukan transaksi digital dibandingkan tunai. Selain lebih aman, pembayaran digital dapat mencegah penularan Covid-19.

Terutama dalam belanja, bepergian atau melakukan transaksi di mana saja. Bahkan, hasil survei menunjukkan, dalam tiga bulan terakhir, penggunaan pembayaran nontunai di antara para pemegang kartu kredit lebih tinggi dari penggunaan uang tunai.

Menurut survei, selama tiga bulan terakhir, pemegang kartu kredit di Indonesia lebih sering menggunakan pembayaran digital (75%), diikuti oleh kartu debit atau kredit (62%), transfer bank (51%), dan uang tunai (49%).

Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman mengatakan, situasi saat ini telah mempercepat agenda nontunai, sebagaimana terlihat dari derasnya minat bertransaksi dengan pembayaran online dan mobile.

Studi Visa Consumer Payment Attitude terbaru memperlihatkan dua dari tiga masyarakat Indonesia telah mencoba bepergian tanpa uang tunai sama sekali selama beberapa hari, terutama konsumen Gen Y (71%) dan affluent (77%).

"Minat ke depannya juga tinggi, di mana hampir tiga dari empat konsumen memprediksi penggunaan pembayaran nontunai mereka akan meningkat di tahun depan," kata Riko Abdurrahman, di Jakarta belum lama ini.

Menurutnya, sejalan dengan tren nontunai tersebut, sangat penting bagi pemegang kartu kredit untuk segera mengaktifkan PIN kartu kredit sebelum 1 Juli. Tujuannya untuk memastikan pembayaran lancar saat melakukan transaksi tatap muka.

"Ini tidak berlaku bagi transaksi contactless dengan nilai transaksi di bawah satu juta," kata dia.

Sementara itu, Lifestyle influencer, Jonathan End mengatakan, sesuai dengan arahan Bank Indonesia, mulai 1 Juli nanti, pemegang kartu kredit di Indonesia harus menggunakan PIN enam digit saat melakukan transaksi. Di sisi lain, autentikasi melalui tanda tangan pun tidak akan diterima lagi.

Seluruh transaksi kartu kredit yang tidak menggunakan autentikasi PIN akan langsung ditolak mesin Electronic Data Capture (EDC) di merchant.

"Masyarakat masih ceroboh dalam menggunakan dan merahasiakan PIN. Contohnya, masyarakat masih ada saja yang membuat PIN dengan angka yang mudah diingat, seperti tanggal lahir. Padahal kombinasi angka tersebut adalah yang paling mudah dibobol," katanya.

Untuk melakukan transaksi digital yang aman saat belanja atau bepergian, Jonathan membagikan beberapa tips kepada masyarakat dalam membuat PIN.

"Salah satunya jangan gunakan angka berurutan, seperti yang paling populer 123456. Ini seringkali dipakai masyarakat," kata dia.

Selain itu, jangan menggunakan kombinasi angka yang sama dengan anggota keluarga lain. Bahkan menurutnya, ada satu keluarga yang memiliki PIN sama semua.

"Ini sangat bahaya. Satu keluarga bisa dibobol. Usahakan PIN ATM dan kartu kredit berbeda. Jangan dicatat di kertas dan ditaruh dompet," kata Jonathan.

Selain itu, dia menyarankan agar jangan percaya memberitahu PIN kepada siapapun bahkan kepada pihak bank. Masyarakat harus cerdas. "Cari kombinasi angka yang personal, ganti PIN secara berkala," ujarnya.

Editor : Vien Dimyati