Intip 6 Kemeriahan Idul Adha di Indonesia, Tradisi di Maluku yang Paling Unik

Vien Dimyati ยท Minggu, 11 Agustus 2019 - 06:28 WIB
Intip 6 Kemeriahan Idul Adha di Indonesia, Tradisi di Maluku yang Paling Unik

Kemeriahan merayakan Idul Adha (Foto : About Islam)

JAKARTA, iNews.id - Hari Raya Idul Adha atau Lebaran Haji identik dengan menyembelih dan membagikan hewan kurban berupa sapi, kambing, atau domba kepada masyarakat yang tidak mampu. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya perayaan hari besar ini akan berlangsung meriah.

Selain menyembelih hewan kurban, beberapa daerah di Indonesia ternyata memiliki tradisi unik yang dilakukan menjelang Idul Adha maupun sesudahnya.

Lantas, apa saja keunikan tradisi Hari Raya Idul Adha yang ada di berbagai daerah Indonesia? Berikut rangkuman iNews.id dikutip Minggu (11/8/2019).

Pengantin Sapi, Pasuruan

Tradisi unik jelang Idul Adha ini ada di Desa Wates Tani, Kecamatan Granti, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Tradisi yang dikenal dengan sebutan Manten Sapi atau pengantin sapi ini dilakukan sebagai wujud penghormatan hewan kurban yang akan disembelih saat Idul Adha. Selayaknya acara pernikahan, sapi-sapi akan dirias agar terlihat cantik dan tampan saat prosesi.

Sapi-sapi itu dikalungi bunga tujuh rupa lalu dibalut kain putih. Setelah didandani, sapi-sapi tersebut diarak ratusan warga menuju masjid dan diserahkan pada panitia kurban. Tak mau ketinggalan, warga perempuan akan memeriahkan acara ini dengan membawa peralatan memasak dan bumbu dapur untuk memasak bersama.

Tradisi Apitan, Semarang

Warga Kelurahan Sampangan, Semarang, Jawa Tengah memiliki tradisi Apitan yang unik. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Sedekah Bumi Apitan sebagai wujud ungkapan syukur kepada Allah SWT. Tradisi ini ditandai dengan pembacaan doa untuk keselamatan warga dan dilanjutkan dengan melakukan arak-arakan.

Wujud syukur ini disimbolkan dengan mengarak tumpeng dan hasil bumi seperti padi, jagung, terung, cabai, tomat, dan sejenisnya. Setelah sampai tujuan, pemuka adat membacakan doa dan makanan dibagikan ke masyarakat. Warga yang hadir akan berlomba-lomba menerima hasil bumi yang telah diarak.

Tradisi Mudik Warga Madura

Jika sebagian besar masyarakat Indonesia berbondong-bondong mudik di Idul Fitri, maka warga Madura justru mudik di Idul Adha. Bagi mereka, Idul Adha adalah waktu untuk pulang ke kampung halaman. Tradisi mudik ini dinamakan Toron. Seperti mudik pada umumnya, warga Madura juga berkumpul bersama keluarga di kampung halaman dan melakukan penyembelihan hewan kurban.

Grebeg Gunungan, Daerah Istimewa Yogyakarta

Yogyakarta punya tradisi unik menjelang Idul Adha, yaitu Grebeg Gunungan. Tradisi ini sudah berjalan turun-temurun di Keraton Yogyakarta. Digelar sesaat menjelang Idul Adha. Tradisi ini digelar dengan membawa membawa hasil bumi yang ditumpuk menyerupai gunung. Ada tiga buah gunungan, satu gunungan lanang dan dua gunungan putri.

Gunungan ini berisi berbagai makanan yang diarak dan dikawal oleh prajurit dan dua ekor kuda. Rutenya dari Keraton melewati Alun-alun Utara Yogyakarta menuju Masjid Gedhe Kauman untuk upacara pembacaan doa. Setelah prosesi doa, warga yang hadir boleh mengambil isi gunungan.

Jemur Kasur di Banyuwangi

Tradisi ini biasa dilakukan oleh masyarakat Suku Osing. Suku ini tinggal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi Jawa Timur. Tradisi unik yang dilakukan menjelang Idul Adha adalah Mepe Kasur. Mepe kasur menjadi cara menghormati datangnya bulan Zulhijah. Mereka percaya bahwa tradisi menjemur kasur menjadi cara untuk menolak bala, sekaligus menjauhkan segala hal-hal buruk dari rumah.

Warga akan menjemur kasur di depan rumah masing-masing hingga sore hari. Menariknya, proses menjemur kasur harus dilakukan secara serentak. Sesekali, mereka akan membalik kasur menggunakan alat tebah atau sapu lidi agar kembali bersih.

Kaul Negeri dan Abda’u, Maluku Tengah

Warga Ambon dan sekitarnya punya tradisi unik. Namanya Kaul dan Abda'u, tradisi yang dilaksanakan setelah salat Idul Adha. Prosesi acara adatnya unik, yaitu sebelum disembelih, tiga ekor kambing digendong dengan kain layaknya menggendong anak kecil. Kambing tersebut kemudian diarak keliling desa diiringi alunan zikir dan salawat menuju pelataran Masjid Negeri Tulehu. Nantinya, ketiga kambing tersebut akan disembelih dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. 

Sementara itu, Abda’u merupakan tradisi merebut bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh ribuan pemuda di Desa Tulehu, Ambon. Tradisi ini menjadi bentuk ketulusan menerima Islam sebagai agama yang harus dijaga. Selain itu, Abda’u diselenggarakan untuk mempererat hubungan persaudaraan antarpemuda.


Editor : Vien Dimyati