Jelajahi Kalbar, Singgahi Bukit Batu Daya yang Mirip Punggung Unta Raksasa

Vien Dimyati ยท Sabtu, 13 Juli 2019 - 12:02 WIB
Jelajahi Kalbar, Singgahi Bukit Batu Daya yang Mirip Punggung Unta Raksasa

Keunikan Bukit Batu Daya (Foto : Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Anda pernah mendengar nama Batu Daya? Atau berkunjung ke kawasan ini? Bukit yang berlokasi di perbatasan antara Kecamatan Laur dan Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir, Kabupaten Ketapang ini menjadi salah satu pesona alam Indonesia yang ada di Kalimantan Barat. Selain indah, Batu Daya menyimpan segudang potensi wisata dengan mitos dan kearifan lokal masyarakat sekitarnya.

Sejak dulu, gunung ini dikeramatkan oleh warga sekitar. Konon, bentuk Bukit Batu Daya berubah-ubah sesuai dari sisi mana yang dilihatnya. Kadang mirip Kura-kura, kadang juga mirip Punggung Onta. Bukit yang letaknya berdekatan dengan Gunung Palung ini termasuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Memiliki ketinggian 958 meter di atas permukaan laut, bukit ini begitu digemari para pencinta alam.

Bukit Batu Daya dikategorikan sebagai salah satu tebing terbesar di Kalimantan Barat selain Bukit Kelam. Selain besar dan tinggi, bukit ini juga indah dan menawan dengan bentuknya yang unik. Bukit yang sebagian memiliki tebing di sisi selatan ini terdiri dari 3 bagian batu yang memiliki bentuk yang berbeda-beda. Batu terbesar yang merupakan bagian punuk unta diberi nama Batu Daya.

Batu kedua yang berada di belakang Batu Daya disebut Kuang Kande. Terakhir bagian kepala unta diberi nama Belah Hulu dengan ketinggian sekitar 400-700 mdpt. Meskipun bukit ini masuk dalam kawasan Hutan Lindung Kabupaten Ketapang, hampir sekeliling bukit sudah tidak ada hutan. Hanya sawit-sawit yang terlihat sejauh mata memandang. Hutan di sini semakin gundul.

"Nasib Gunung Batu Daya di tengah mengganasnya pembukaan lahan kelapa sawit. Salah satu warga dusun Keranji, Desa Batu Daya mengungkapkan kekhawatirannya akan nasib dan keberadaan Bukit Batu Daya. Menurutnya, nasib Gunung Batu Daya kini sudah semakin terhimpit, juga menangis karena penopang di sisi kiri dan kanan berupa hutan di sekitar bukitnya semakin berkurang, karena pembukaan lahan kelapa sawit oleh beberapa perusahaan yang tak kunjung henti. Referensi foto: @jupita-sf, @adifery79 dan @wisata.batudaya," tulis Instagram @indoflashlight, dikutip Sabtu (13/7/2019).

Jika Anda tertarik pergi ke tempat wisata ini, Anda bisa melalui dua rute perjalanan. Rute air dan darat. Jalur darat dapat ditempuh sekitar 8 jam dari Kota Pontianak. Sementara jalur air melalui pelabuhan kapal klotok di Rasau Jaya. Waktu tempuhnya sekitar 12 jam. Tiba di Teluk Melano, perjalanan dilanjutkan menggunakan sepeda boat kurang lebih 45 menit perjalanan menyusuri Sungai Matan. Tiba di Desa Matan, Anda masih harus menyusuri jalan tanah perkebunan. Anda juga bisa menumpang atau carter truk yang kebetulan melintas di lahan perkebunan.


Editor : Vien Dimyati