Keseruan Insan Autis Berwisata Kereta Tua di Ambarawa

Ramdan Malik ยท Minggu, 06 Januari 2019 - 21:34 WIB
Keseruan Insan Autis Berwisata Kereta Tua di Ambarawa

Keseruan Lintang Lazuardi Rais berwisata di Ambarawa. (Foto: iNews.id/Ramdan Malik)

AMBARAWA, iNews.id – Ambarawa, Jawa Tengah menyimpan banyak spot wisata menarik yang bisa dikunjungi. Salah satunya, wisata kereta tua.

Pukul 07.00 WIB, Lintang Lazuardi Rais telah menunggu di depan gerbang Museum Kereta Api, Ambarawa, Jawa Tengah. Sehari sebelumnya Ais, demikian panggilan insan autis berusia 20 tahun ini, kehabisan tiket wisata kereta tua lantaran datang kesiangan bersama orangtuanya dari Depok, Jawa Barat.

Kendati pintu baru dibuka sejam kemudian, pengunjung telah ramai. "Saya dari Madiun, Jawa Timur jam empat pagi tadi, naik mobil bersama keluarga," tutur Eni, salah seorang wisatawan.

Begitu gerbang dibuka, pengunjung langsung berlarian. Antrean panjang segera terbentuk di depan loket. Namun, ada saja yang malas antre. Budaya jalan pintas dimungkinkan karena setiap orang bisa membeli maksimal empat karcis.

Belum lagi pengunjung yang tidak disiplin, seenaknya menyelip di tengah antrean panjang, tanpa merasa bersalah sama sekali. 

"Kami tak bisa menertibkan semua pengunjung, jumlah kami terbatas," kata salah seorang petugas museum.

Ais mulai gelisah menyaksikan keriuhan ini. Apalagi tiket yang diperoleh di loket pertama, ternyata baru karcis masuk Museum Kereta Api seharga Rp10.000. Dia harus antre lagi di loket kedua untuk periksa bar code tiketnya. Lalu, petugas museum mencatat secara manual di buku tulis, pengunjung mana yang dapat naik kereta tua pertama jam 09.00, kedua pukul 11.00, serta ketiga jam 13.00.

Ais dapat giliran kedua. Padahal, dia sudah berlari ke loket agar antre duluan. Insan autis sangat terganggu bila keteraturan dilanggar. Sementara wisata kereta tua reguler hanya ada pada Sabtu, Minggu, serta hari libur.

Alhasil, kegelisahan Ais berlanjut lantaran harus menunggu kereta tua tiga jam lagi. Beruntung petugas loket ketiga bersedia memberikan tiket kereta seharga Rp50.000 pada giliran pertama, setelah orangtuanya menceritakan keresahan sang anak sejak kemarin.

Kereta tua baru datang pukul 09.30 WIB. Ais dengan antusias menaiki gerbong berusia seabad lebih ini. Tapi, dia lagi-lagi kecewa. Lokomotifnya ternyata bukan si hitam buatan Jerman seabad lebih silam, seperti yang selama ini dia lihat lewat dvd pemberian orangtuanya. Namun, lokomotif diesel yang diresmikan Presiden Soekarno pengoperasiannya pada 1953.

Untunglah, panorama elok Gunung Telomoyo dan Rawa Pening lumayan menghiburnya selama satu jam perjalanan kereta tua pulang pergi Stasiun Ambarawa-Tuntang. Dia mengikuti orangtuanya ke bordes yang menyambungkan tiga gerbong kereta tua dan sebuah lokomotif penghelanya. Para pemancing dengan perahu-perahu mereka di Rawa Pening lebih jelas kelihatan.

Berbeda dengan dvd yang ditontonnya selama ini, kereta tua ini pun tidak menuju Stasiun Bedono. Dengan demikian, tak mendaki ke Stasiun Jambu, sehingga tidak melewati rel bergerigi dan mengisi air di Stasiun Jambu. 

"Kalau jalur itu untuk kereta tua sewaan, misalnya yang disewa rombongan mantan tentara Belanda yang pernah bertugas di Ambarawa," ucap seorang petugas di Stasiun Tuntang saat ditanya orangtua Ais, Ramdan Malik.

Setelah lokomotif berbalik di Stasiun Tuntang, kereta tua berkecepatan 40 kilometer per jam ini kembali ke Stasiun Ambarawa. Ais dan sekitar 200 penumpang yang diangkutnya tersenyum senang. Semoga seperti tagline di dinding gerbong kereta tua ini, "It takes only one hour, but the memory of your railway mountain tour will last forever".


Editor : Tuty Ocktaviany