Keunikan Air Terjun Toroan Madura, Terlihat Indah saat Air Laut Pasang

Vien Dimyati ยท Rabu, 13 Maret 2019 - 16:05 WIB
Keunikan Air Terjun Toroan Madura, Terlihat Indah saat Air Laut Pasang

Air Terjun Toroan dikeramatkan oleh warga sekitar. (Foto: Instagram).

JAKARTA, iNews.id - Tak hanya terkenal dengan soto dan sate, pulau berjuluk Pulau Garam ini ternyata punya tempat-tempat menarik dan unik untuk dikunjungi. Salah satunya Air Terjun Toroan yang ada di Sampang, Madura.

Air terjun ini unik karena aliran airnya langsung menuju perairan Laut Jawa, sama seperti Air Terjun Mursala di Sumatera Utara. Menarik, karena terletak di tepi Pantai Nepa yang berada di sebelah utara Pulau Nepa dan merupakan air terjun satu-satunya di Pulau Madura.

Air Terjun Toroan memiliki ketinggian 20 meter dengan dinding tebingnya berwarna kuning keemasan. Ketika air laut pasang, air terjun ini semakin terlihat indah. Suara deburan air yang beradu antara Air Terjun Toroan dengan perairan Laut Jawa memperindah suasana.

"Air Terjun Toroan, perpaduan yang cantik air terjun dengan pantai. Air terjun ini berada di Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura yang memiliki tinggi 20 meter dan lokasinya berdampingan dengan sebuah pantai. Hal inilah yang menjadikan air terjun ini berbeda dengan air terjun pada umumnya. Di sini kamu tidak boleh berenang ataupun lompat dari atas. Jadi, kapan nih dolan ke sini? Foto dolan dari @will_jonatan," tulis Instagram @ayodolan dikutip Rabu (13/3/2019).

Ketika air laut sedang surut, air terjun ini tetap mengalir dan terlihat menghantam tanah dengan kedalaman sekitar dua meter. Anda harus hati-hati jika ingin mendekati air terjun untuk mengambil foto. Ada beberapa batu karang yang aman, bisa dijadikan pijakan untuk berfoto atau sekadar melihat air terjun dari dekat.

Air Terjun Toroan dikeramatkan oleh warga sekitar. Berdasarkan legenda yang ada, pasangan suami istri yang tinggal di Dusun Langgher Daya bernama Siti Fatimah dan Sayyid Abdurrahman, atau lebih dikenal sebagai Birenggono sering kali bertengkar.

Awalnya, pasangan ini hidup bahagia dan rukun, sampai suatu hari sang suami curiga istrinya selingkuh. Begitu pula sebaliknya. Pasangan ini pun bersumpah di hadapan banyak orang. Sang istri bersumpah jika dia terbukti tidak bersalah, maka kuburannya tidak akan hanyut dibawa air sungai dan banjir. Lalu, sang suami, Birenggono bersumpah ketika ia meninggal, jika tidak bersalah maka kuburannya akan mudah digali walau hanya menggunakan sebatang ranting.

Suatu saat pasangan tersebut meninggal bersamaan dan dimakamkan oleh penduduk sesuai wasiat semasa hidup. Ternyata aliran sungai terbelah ketika melewati makam Siti Fatimah dan menjadi dua aliran menuju air laut. Kemudian air terjun tersebut dinamakan Air Terjun Toroan yang berasal dari kata Toron (Toron dalam bahasa Madura berarti turun). Makam Siti Fatimah kemudian oleh masyarakat dinamakan Asta Buju Penyppen.

Begitu pula dengan Birenggono, makamnya mudah digali dengan menggunakan ranting pohon jarak. Makam Birenggono ini kemudian dinamai Asta Kam Tenggi yang artinya makam di tempat yang tinggi. Makam Siti Fatimah berada di Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang, sedangkan makam Birenggono berada di Desa Ketapang Timur, Kecamatan Ketapang.

Di sini tidak disarankan berenang karena terdapat palung yang sangat dalam. Selain itu, tidak terdapat tempat bagi pengunjung untuk mengganti baju atau membilas tubuh. Tempat ini juga dipenuhi batu karang. Jika ingin merasakan kesegaran air terjun ini, Anda dapat mandi di kolam alami yang berada di bawahnya dan akan lebih aman jika menikmati keindahan Air Terjun Toroan dari tempat yang disediakan.

Bagaimana Menuju ke Sana:

Untuk menikmati keunikan Air Terjun Toroan, Anda hanya dikenakan biaya parkir kendaraan sebesar Rp5.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp10.000 untuk kendaraan roda empat. Rute menunju Air Terjun Toroan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum.

Akses jalan yang dilewati sudah beraspal dengan kondisi lumayan baik. Dari Surabaya berjarak 105 kilometer dengan dua pilihan bisa menggunakan kapal fery dari pelabuhan Tanjung Perak atau dengan melewati jembatan Suramadu.

Setelah menyeberang ke Pulau Madura, ada dua jalur yang bisa ditempuh yaitu melalui Pantura atau mengambil jalan memutar melewati tengah Kota Sampang. Sedangkan bagi yang sudah di Pulau Madura, pengunjung bisa langsung menuju ke Desa Ketapang Daya, Kecamatan Ketapang. Setibanya di Ketapang, Anda masih harus berjalan kaki kira-kira sejauh 50 meter menuju lokasi air terjun dengan jalan yang sedikit curam.


Editor : Adhityo Fajar