Mau ke Yogyakarta? Yuk, Kunjungi Candi Kedulan yang Baru Dipugar

Ramdan Malik ยท Jumat, 04 Januari 2019 - 20:35 WIB
Mau ke Yogyakarta? Yuk, Kunjungi Candi Kedulan yang Baru Dipugar

Candi Kedulan jadi salah satu destinasi wisata. (Foto: iNews.id/Ramdan Malik)

YOGYAKARTA, iNews.id - Satu lagi destinasi wisata sejarah yang patut dikunjungi di Yogyakarta, Candi Kedulan. Terletak di Desa Kedulan, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, candi Hindu ini selesai pemugaran tahap pertamanya, 11 Desember 2018 lalu.

Hujan menyambut kedatangan saya, Kamis pagi 3 Januari 2019. Sepatu sendal yang saya kenakan kemasukan banyak butiran pasir. Candi Kedulan memang ditemukan para penambang pasir secara tak sengaja pada 24 November 1993. Namun, baru 25 tahun kemudian dipugar selama setahun.

Sambil menunggu hujan reda di pos satpam, seorang anggota satuan pengamanan membuka sebuah karung goni. Saya terkejut sambil berteriak kegirangan, "Nandi!" Arca kepala sapi kendaraan Dewa Syiwa ini di mata saya seperti korban mutilasi.

Dipayungi satpam itu, saya turun ke bawah menuju candi utama. Potongan tubuh arca Nandi dengan pahatan nan elok dan lucu di ekornya, berada di depan candi. Juga yoni berkepala naga yang melambangkan kesuburan.

Saya menaiki tangga Candi Kedulan dengan hati berdebar. Lalu memasuki ruang di pucuknya yang berisi lingga besar, sebuah simbol sakral.

Jelajah Kedulan saya teruskan dengan mengelilingi relief candi. Dewi Durga, Ganesha, Agastya di situ. Utuh dan cantik sekali pahatannya. Begitu pula sulur-sulur tumbuhan, kala, serta gana.

Setelah menuruni tangga candi, saya ke candi pendamping (perwara) di sebelahnya. Ini satu dari tiga candi kecil yang ditemukan arkeolog dalam penggalian 15 lapisan bumi sedalam delapan meter. Dua candi kecil lainnya berada di atas dekat pintu gerbang Candi Kedulan. 

"Akan dilanjutkan tahun ini pemugaran candi perwaranya, termasuk menyatukan arca Nandi itu," kata satpam yang memayungi saya.

Dua candi pendamping yang berada di atas tak lepas dari jejak kaki saya. Beberapa bagian candi sudah tidak utuh, tetapi keelokannya masih mengundang decak kagum. 

"Kalau jadi dipugar, satu per satu batu candi ini akan dipindahkan ke bawah untuk direkonstruksi lagi," ujar satpam yang bertahun-tahun sempat menjadi juru pelihara candi ini.

Pak Satpam pun membeberkan sejumlah poster yang telah dilapisi plastik dan kayu. Salah satunya tentang dua prasasti yang ditemukan saat penggalian di sini pada 12 Juni 2003. Ditulis dalam huruf Pallawa serta berbahasa Sansekerta, berangka tahun 791 Saka atau 869 Masehi, ketika Dyah Lokapala memimpin Kerajaan Mataram Kuno. Isinya antara lain mengenai pajak tanah dan pembuatan bendungan, diakhiri dengan ancaman kutukan bagi siapa pun yang melanggarnya.

Berdasarkan informasi, ada prasasti lain ditemukan di antara candi perwara utara dan tengah pada September 2018. Prasasti bertarikh 822 Saka atau 900 Masehi itu menurut epigraf Departemen Arkeologi FIB UGM, Tjahjono Prasodjo, menyebut Desa Kedulan pada abad kedelapan atau kesembilan dengan nama Tlu Ron (Tiga Daun).

Dia juga menemukan lokasi bendungan, saluran air, serta pancuran mandi, yang disebut dalam prasasti Raja Mataram Kuno, Dyah Balitung. Lokasi bendungan (dawuhan) di Dusun Ngalihan, sekitar empat kilometer barat laut Kedulan. Sedangkan saluran air (wluran) mengarah ke Dusun Ngaliyan hingga Kedulan. Sementara pancuran air berada di Dusun Jongkrangan, sebelah timur Kedulan.

Sesudah satu setengah jam di Candi Kidulan, saya meninggalkan lokasi. Hujan telah reda seakan melepas saya meninggalkan candi yang diperkirakan terkubur lahar letusan Gunung Merapi selama ratusan tahun. Semoga misteri tentang candi ini kian terkuak dengan kesabaran dan kedahsyatan kerja para arkeologi, agar kita bisa bercermin dengan masa lalu untuk melangkah ke muka.


Editor : Tuty Ocktaviany