Mengenal Lebih Dekat Tambrauw, Ada Air Panas War Aremi & Bukit Sontiri

Vien Dimyati ยท Rabu, 13 Maret 2019 - 20:58 WIB
Mengenal Lebih Dekat Tambrauw, Ada Air Panas War Aremi & Bukit Sontiri

Berada di Papua Barat, wisatawan dapat mengenal Tambrauw yang punya pesona indah. (Foto: Kemenpar)

TAMBRAUW, iNews.id - Tak hanya Raja Ampat yang memiliki alam yang memesona. Berada di Papua Barat, wisatawan dapat mengenal Tambrauw, kabupaten yang terletak di 'kepala burung'.

Berada di sini, traveler dapat bersantai sejenak dari keramaian kota. Memandang alam yang masih alami dan belum tereksplorasi.

Menjelajahi Tambrauw bisa dimulai dari Mess Kebar, Distrik Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Di sini terdapat Air Panas War Aremi dan Bukit Sontiri. Dua pesona alam yang bakal membuat wisatawan takjub. 

Tak hanya itu, jika ingin mendapatkan pemandangan air terjun yang eksotis, datanglah ke Distrik Miyah. Di sini ada Air Terjun Anenderat.

Ketika mengunjungi Bukit Sontiri dan Air Panas War Aremi, diperlukan perjalanan kurang dari 30 menit dari Mess Kebar, tempat penginapan milik Pemda setempat. Waktu terbaik mengunjungi Bukit Sontiri adalah pagi hari. Di sinilah pengunjung bisa merasakan keindahan alam Tambrauw. 

Hamparan rumputnya yang hijau dihiasi jaring laba-laba setiap pagi, sehingga ada kelir putih nan cantik di atasnya. Setelah itu, pemandangan pagi pun terlihat dari teriknya matahari yang perlahan muncul dari balik bukit. Masyarakat modern menyebut dengan nama Bukit Teletubbies karena tampilannya yang mirip dengan barisan bukit hijau. 


Tepat berhadapan dengan Bukit Sontiri, terdapat Pegunungan Tamrau yang merupakan landmark Tambrauw. Barisan bukit berhektare-hektare tersebut membentang bagai permadani hijau, belum lagi kilau cahaya yang menyerupai emas, seakan menambah keindahan bukit.

Istimewanya, Bukit Sontiri terlihat cantik saat waktu emas atau "golden time", yakni pagi dan sore hari. Saat mentari hendak tenggelam itu, Bukit Sontiri banyak dikunjungi warga sekitar untuk menghabiskan waktu menunggu matahari tenggelam. Di sana anak-anak dapat bermain, berlari, bahkan sekadar duduk sambil menunggu ternak mereka merumput.

Perjalanan selanjutnya adalah mencari oasis alam berupa Air Panas War Aremi. Namanya memang masih terdengar asing di telinga. Meski demikian, lokasi ini tetap menantang untuk dijelajahi. Sama seperti lokasi lain, perjalanan ke lokasi air panas tersebut tidaklah mudah.

Air Panas War Aremi adalah kolam yang ditopang oleh batu alami yang tampak seperti sungai biasa. Dari dekat, bisa dilihat airnya berembun. Airnya terasa hangat. Kolam alami tersebut tidak terlalu dalam, hanya sebatas lutut orang dewasa. Wisatawan bisa menikmati air panas dengan merendam sebagian atau seluruh tubuhnya di sana.

Di bagian tengah kolam, terdapat beberapa kumpulan batu yang memunculkan buih-buih di tengahnya, dugaan warga sekitar, buih inilah yang menjadi pusat air panas. Energi panas yang dihasilkan ini bersumber dari geotermal di sekitarnya.

Semua warga di sana yakin kolam air panas ini adalah 'berkat'. Sebab, kolam berada jauh dari lokasi keramaian dan bisa berfungsi sebagai lokasi pelepas penat. Dari sana, ketenangan pun tercipta dengan sempurna, bisa dinikmati bersama suara hembusan angin yang sejuk.

Untuk mencapai Bukit Sontiri dan Air Panas War Aremi, wisatawan perlu melewati jalanan berbatu dengan kelokan tajam yang tidak mudah ditempuh. Diperlukan keahlian dalam mengemudikan kendaraan "double cabin" di sana. Jarak tempuh dari Manokwari ke Distrik Kebar yakni sekitar lima jam, sedangkan jaraknya dengan Distrik Sausapor sekitar empat jam.

Tarian Kafuk

Menempuh perjalanan darat mengendarai mobil "double cabin" selama satu jam ke Distrik Miyah dari Distrik Kebar, terdapat suguhan lain yang tidak kalah memesona adalah Air Terjun Anenderat.

Wisatawan dapat melihat tarian Penyambutan. Tarian tersebut bernama Kafuk, yakni tarian penyambutan yang biasa dilakukan warga lokal untuk menyambut tamu. Belasan warga setempat dari berbagai usia mengenakan aksesori khas Papua.

Tarian ini merupakan ucapan selamat datang yang ditujukan kepada tamu dengan penuh suka cita. Para penari perempuan mengayunkan tangan seperti mengajak bermain. Selanjutnya para penari akan meregangkan barisan dan menempatkan para tamu kehormatan di antara mereka. Lantas, mereka akan menari keliling kampung.

Sampai di tengah kampung, formasi tarian akan berubah ketika seorang pria yang merupakan kepala suku muncul. Instruksi yang diberikan pria itu jelas, yakni mengubah formasi menjadi melingkar dengan posisi para tamu tetap berada di tengah penari. Mereka mengucap "Siau tayunu foo", di antaranya terselip nama para tamu.

Setelah itu, para tamu dan masyarakat kembali berbaur menyusuri jalan bebatuan, serta menyeberangi sungai berarus deras. Kali ini tujuannya adalah Air Terjun Anenderat, yakni air terjun alami yang memiliki beberapa undakan bebatuan dengan tinggi mencapai 200 meter.

Ada suasana tenang dan damai yang ditawarkan di sana. Suara limpahan air mengalun bersama kicauan burung cenderawasih yang melintas di tengah hutan.

Untuk menuju ke Distrik Kebar, wisatawan harus menempuh empat hingga lima jam perjalanan dari Sorong. Sementara untuk menginap di Mess Kebar, biayanya Rp500.000 per malam untuk satu kamar dengan tambahan biaya makan Rp50.000 sekali makan per orang.

Bagi yang punya kocek lebih, dapat mencapai Kebar menggunakan Susi Air (Manokwari-Kebar) dengan jadwal penerbangan Sabtu, pukul 09.35-10.05 WIT. Harga tiketnya terjangkau senilai Rp223.600.


Editor : Tuty Ocktaviany