Mengenal Sertifikat Sustainable Tourism sebagai Pengontrol Kepariwisataan

Vien Dimyati ยท Jumat, 17 Mei 2019 - 22:18 WIB
Mengenal Sertifikat Sustainable Tourism sebagai Pengontrol Kepariwisataan

Mengenal Sertifikat Sustainable Tourism (Foto: Kemenpar)

JAKARTA, iNews.id - Konsep pariwisata berkelanjutan belakangan sedang genjar diterapkan di berbagai daerah. Tujuannya agar destinasi wisata dan budaya di Indonesia terus lestari.

Maka itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengenalkan Indonesia Sustainable Tourism Certification (ISTC) sebagai instrumen untuk mengontrol dampak sosial dalam pembangunan kepariwisataan di Tanah Air.

Peneliti senior bidang kepariwisataan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Roby Ardiwidjaja mengatakan, pemberian sertifikat ISTC menjadi tanda, destinasi pariwisata tersebut sudah menerapkan prinsip-prinsip kepariwisataan berkelanjutan (sustainable tourism).

Pariwisata berkelanjutan mengedepankan unsur sosial dengan melestarian sumber daya alam dan budaya masyarakat setempat atau 3P, people, planet, prosperity.

“Destinasi yang mendapat ISTC, kalau dalam dua tahun tidak menjalankan prinsip pelestarian budaya dan lingkungan, bisa langsung dicabut,” kata Roby Ardiwidjaja, dalam FGD (Focus Grup Discussion) Analisis PESTEL yang berlangsung di Mercure Sabang Hotel Jakarta Pusat, Kamis 16 Mei 2019.

Roby Ardiwidjaja mengatakan, kebudayaan masyarakat setempat menjadi aset pariwisata. Wisatawan tertarik berkunjung ke suatu destinasi lantaran ada daya tarik berupa keunikan budaya di dalamnya.

Dia menambahkan, keunikan budaya masyarakat Indonesia masih dapat dijumpai di desa-desa. Maka, sangat tepat bila perhatian pembangunan kepariwisataan difokuskan pada desa atau desa wisata yang ada di sekitar desinasi pariwisata.

Sementara itu, Heriyanti Ongkodharma dari Universitas Indonesia menilai, masyarakat pedesaan menjadi benteng terakhir dalam mempertahankan ‘wajah kebudayaan’ masyarakat Indonesia.

"Pembangunan kepariwisataan harus menjaga dan melestarikan budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, perlu diberlakukan ‘Amdal Budaya," kata Heriyanti.

Hal senada juga disampaikan Pudentia selaku Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (Pakar Tradisi Lisan). Menurutnya, tradisi lisan sebagai produk kebudayaan masyarakat menjadi salah satu daya tarik pariwisata. "Tradisi lisan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan,” katanya.

Dia mencontohkan, salah satu keberhasilan sektor pariwisata Malaysia yakni sukses menggembangkan tradisi lisan Suku Dayak yang unik dan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke negara bagian Sabah dan Serawak Malaysia.

Sementara, Janianton Damanik selaku perwakilan dari Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada menilai, pembangunan pariwisata telah menciptakan perubahaan ekonomi dan ekologi di lingkungan masyarakat.

Menurutnya, telah terjadi lompatan terlalu cepat, sehingga banyak masyarakat setempat tidak siap. Mulai dari sebelumnya memiliki budaya berbasis agraris, kemudian harus cepat beralih ke budaya industri jasa.

Dalam berbagai kesempatan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan, pengembangan kepariwisataan berkelanjutan atau (Sustainable Tourism Development/STDev) mengacu pada standar global UNWTO dan GSTC (Global Sustainable Tourism Council).

Dalam standar GSTC mempertimbangkan tiga aspek utama yaitu aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi baik untuk saat ini maupun masa depan dengan pendekatan pada 3P (People, Planet, Prosperity) dan Management.

Pendekatan 'people' sebagai upaya pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, sedangkan 'planet' untuk pelestarian lingkungan.

Sementara itu, pendekatan 'prosperity' sebagai pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal, dan pendekatan manajemen sebagai tata kelola destinasi pariwisata berkelanjutan dengan mengedepankan semboyan 'Semakin Dilestarikan, Semakin Menyejahterakan'.

Program STDev diawali dengan Sustainable Tourism Destination (STD), yaitu penerapan konsep pariwisata berkelanjutan di destinasi wisata yang dikerjasamakan dengan Pemda.

Kemudian dilanjutkan dengan Sustainable Tourism Observatory (STO) yaitu pemantauan beberapa destinasi yang dikerjasamakan dengan lima universitas yaitu destinasi Sleman (Yogyakarta) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, Pangandaran (Jabar) dengan ITB, Sanur (Bali) bekerja sama dengan Universitas Udayana, Sesaot (NTB) bekerja sama dengan Universitas Mataram, dan Pangururan Samosir (Sumut) bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara.

Sementara itu, sustainable tourism certification (STC) merupakan rangkaian akhir dari keseluruhan program STDev tersebut.

Asisten Deputi Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata Frans Teguh mengatakan, kegiatan FGD (Focus Grup Discusstion) Analisis PESTEL seri ketiga kali ini mengangkat isu sosial dan kepariwisataan.

”Kepariwisataan mempunyai keterkaitan erat dengan isu sosial,” kata Frans Teguh.

Menurutnya, pada FGD pertama sebelumnya mengangkat isu ‘Teknologi dan Pariwisata’ dan berlanjut pada FGD kedua dengan tema Lingkungan dan Kepariwisataan.

FGD kali ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah, dan pelaku bisnis antara lain Yanuar Nugroho selaku Deputi II Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Sosial, Ekologi, dan Budaya Strategis Kantor Staf Presiden, Janianton Damanik perwakilan dari Universitas Gadjah Mada, dan Liga Suryadana selaku Direktur Program Pascasarjana STP Bandung.

Selain itu ada Pudentia selaku Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pakar Tradisi Lisan, Heriyanti Ongkodharma dari Universitas Indonesia, dan Roby Ardiwidjaja sebagai Peneliti Kementerian Pariwisata.

Kegiatan FGD merupakan hasil kerja sama Kemenpar dengan Litbang Kompas. Kegiatan ini akan berlangsung dalam enam seri dengan membahas seputar isu PESTEL (Political, Economic, Social, Technological, Environmental, dan Legal).

Dari penyelenggaraan FGD ini diharapkan dapat dikenali, ditangani, serta dilakukan interaksi perubahan dari berbagai faktor yang berpengaruh terhadap sektor pariwisata.


Editor : Vien Dimyati