Mengintip Kampung Kuno Wainyapu, Terlihat Eksotis Sembunyi di Sumba

Vien Dimyati ยท Rabu, 22 Mei 2019 - 06:19 WIB
Mengintip Kampung Kuno Wainyapu, Terlihat Eksotis Sembunyi di Sumba

Kampung Wainyapu menjadi salah satu kampung adat yang menarik untuk dikunjungi. (Foto: Instagram)

JAKARTA, iNews.id - Kampung ini memiliki daya tarik karena keaslian rumah adat Uma Kalada (rumah beratap rumbia yang menjulang) berjumlah 60 rumah masih terpelihara dengan baik. Berada di sini, traveler dapat melihat batu- batu kubur megalit yang unik sebanyak 1.058 buah.

Kampung Wainyapu menjadi salah satu kampung adat yang menarik untuk dikunjungi. Keindahan alam dan kebudayaan masyarakat setempat masih memegang kepercayaan marapu, serta memelihara adat istiadat leluhur.

"Jenuh dengan kepenatan di kota besar dan keangkuhan gedung pencakar langitnya? Mungkin rumah adat dengan atapnya yang tinggi dan suasana khas ala Kampung Wainyapu bisa menyegarkan dan menciptakan kesan yang berbeda," tulis Instagram @ ayodolan, Rabu (22/5/2019).

Kampung yang terletak di tepi pantai selatan Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya berjarak sekitar 63 km dari Kota Tambolaka. Pemandangan elok tepi pantai dengan deretan rumah adat yang menjulang ke awan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Menuju kampung ini, Anda akan disambut dengan hamparan kuburan batu megalith pada hamparan tanah lapang depan perkampungan. Memasuki perkampungan, Anda akan disuguhi bangunan rumah adat dengan menara menjulang tinggi yang mencakar langit.

Bangunan tradisional di sini tidak menggunakan unsur logam. Atap ilalang yang menjulang tinggi itu ditopang empat tiang utama. Keempat tiang utama berukir itu berdiri kokoh di tengah rumah. Uniknya di tengah keempat tiang ini menjadi tempat tungku atau dapur berada.

Di sekitar keempat tiang itu pula, benda-benda pusaka dan upacara disimpan. Aksesori lainnya yang bisa ditemui di dalam rumah adalah tanduk kerbau dan rahang babi yang dipajang di dinding dan bawah atap ilalang.

Perkampungan yang konon telah ada sejak abad 15 silam ini, termasuk salah satu yang tertua di Sumba. Kampung ini dikenal dengan pembuatan rumah adat dan penarikan batu kubur. Anda bisa menikmati berbagai suguhan menarik dari penduduk setempat. Ada pertunjukan budaya, pengenalan kegiatan adat berupa ritual seperti penarikan batu kubur dan upacara pasola yang digelar sekitar Februari atau Maret.

Pasola adalah sebuah pertandingan lempar lembing yang dilakukan oleh para pemuda Sumba. Ritual pasola kerap menarik wisatawan berkunjung ke sini. Terdiri dari dua tim, yang masing-masing beranggotakan 100 orang yang saling melemparkan tombak tumpul dari atas kuda yang berlari kencang.

Pertandingan berdarah ini merupakan bentuk persembahan kepada para dewa agar diberi panen yang melimpah. Dalam perang ini, peserta dan kuda yang jatuh tidak boleh diserang namun setiap darah yang keluar diyakini dapat menyuburkan tanah dan bermanfaat bagi panen berikutnya.


Editor : Tuty Ocktaviany