Mengintip Peluang Sektor Film dan Komik di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Vien Dimyati ยท Jumat, 14 Agustus 2020 - 14:33 WIB
Mengintip Peluang Sektor Film dan Komik di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Peluang film dan komik (Foto : Kemenparekraf)

JAKARTA, iNews.id - Dunia Perfilman dan komik nasional menjadi salah satu sektor yang bisa berkembang lebih maju. Terutama dalam menghadapi era adaptasi kebiasaan baru.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar talkshow daring bagi para pelaku kreatif film dan komik untuk mendiskusikan mengenai berbagai macam peluang yang ada. Diskusi ini juga sebagai bentuk penguatan sinergi dari semua pihak dalam pengembangan komik pada film nasional di era normal baru.

Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh mengatakan, untuk mengadaptasi komik menjadi film nasional diperlukan kecermatan dalam melihat peluang yang ada.

“Film dan komik di Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan. Untuk itu pelaku usaha kreatif komik dan film harus saling bersinergi menciptakan kolaborasi guna melihat berbagai peluang yang nantinya bisa diimplementasikan,” kata Frans Teguh, dalam talkshow daring Kolaborasi Pentahelix yang bertajuk “Peluang Komik di Film Nasional”, Kamis (13/8/2020).

Selain itu talkshow daring ini merupakan wujud arahan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk melakukan kolaborasi secara intensif dengan pelaku usaha ekonomi kreatif. Agar dapat meningkatkan kompetensi, daya saing, serta memeroleh berbagai manfaat lain untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Frans Teguh mengatakan, pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan satu poin dengan dua sisi. Pada satu sisi dapat mengeksplorasi karakter-karakter nusantara di daerah yang memiliki potensi pariwisata.

Nantinya bisa menciptakan daya tarik wisata baru. Tidak hanya menampilkan keindahan alam tetapi juga menghadirkan cerita atau nilai yang berkaitan dengan destinasi wisata tersebut.

Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan masukan serta saran bagi para komikus untuk dapat berkolaborasi dengan para sineas film di Indonesia.

Talkshow daring ini menghadirkan beberapa narasumber, antara lain Direktur Industri Kreatif Film, Tv, dan Animasi Kemenparekraf/Baparekraf Syaifullah, Produser Celerina Judisari, Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan Film Badan Perfilman Indonesia Agung Sentausa, dan Creator Si Juki, Creative Director Pionicon Faza Meonk.

Produser, Celerina Judisari mengatakan, peluang bisa ditangkap dari dua tahapan yakni pembaca dan penonton film.

“Ketika komik tervisualisasikan dalam bentuk film, pembaca lama perlu kita gandeng kembali. Karena akan ada transisi-transisi di antara pembaca lama dan pembaca baru yang harus disiasati oleh produser, bagaimana hal tersebut dapat ditangkap sebagai peluang yang akhirnya bisa dimasukkan ke dalam kantong jumlah penonton. Karena di Indonesia yang dilihat adalah jumlah penontonnya,” ujar Celerina.

Selain itu, peluang bisa didapatkan dari investor atau sponsor. Seperti contohnya Satria Dewa Studio yang menaungi film Gatotkaca memiliki format yang berbeda dari Bumi Langit Universe yang menaungi Gundala.

Bumi Langit dilatarbelakangi oleh Screenplay Productions yang notabene sudah kuat di industri perfilman. Sementara, Satria Dewa Studio adalah pemain baru yang berhasil mendapatkan investor atau sponsor terlebih dahulu, untuk membiayai film Gatotkaca, sehingga bisa membuka peluang lebih cepat.

Peluang juga bisa diperoleh dengan ada saluran distribusi atau platforms. Seperti, Wirosableng yang bekerja sama dengan 20th Century Fox, sehingga distribusinya bisa dilakukan secara global. Secara value peluang tersebut tinggi sekali.

Sebagai produser tentu harus melihat komik dalam jangka panjang. “Ketika produser akan merilis film, harus mencari lokomotifnya. Harus memilih karakter yang kuat untuk bisa menarik perhatian target penonton,” kata Celerina.

Celerina menambahkan pada saat penciptaan karakter melalui komik, harus sudah dipikirkan karakter tersebut dengan intellectually product (IP), di mana IP itu bisa diturunkan ke berbagai macam bentuk.

“Jadi film ini merupakan pembuka untuk menghidupkan suatu karakter ke dalam permutasi atau turunan lain, seperti merchandise, stiker, musik, radio, bahkan bisa juga dengan membuat cafe yang sesuai dengan karakter film, dan juga animasi lain,” kata Celerina.

Oleh karena itu, diperlukan strategi branding yang tepat untuk menghasilkan permutasi yang besar dan kuat.

“Film dan komik tidak bisa berdiri sendiri. Seorang produser harus mempunyai tim yang kuat dalam branding ataupun marketing. bisa mendapat pemasukkan yang lain dari permutasi-permutasi yang akan dihasilkan," kata Celerina.

Sementara Creator Si Juki, Creative Director Pionicon, Faza Meonk menjelaskan, komik dari sisi digital di mana format digital ini sangat mempermudah para komikus untuk melakukan penetrasi pasar dengan menjangkau pembaca yang lebih luas dan memangkas jalur distribusi komikus dalam menerbitkan karyanya.

“Ini merupakan peluang yang sangat baik bagi komikus Indonesia untuk memasarkan karya melalui internet. Karena, pembaca pun semakin banyak yang familiar dan menggunakan platform digital,” ujar Faza.

Selain itu, dengan platform digital ini bisa menjadi salah satu acuan untuk melakukan validasi market. “Di mana kita bisa melihat jumlah pembaca komik, komentar yang diberikan pembaca hingga besarnya engagement yang diperoleh. Hal ini dapat menarik perhatian produser untuk membuat karya komik menjadi sebuah film,” kata Faza.

Editor : Vien Dimyati