Pikat Wisman Berkunjung ke Bali, Masyarakat Kenalkan Budaya Kelola Sampah

Vien Dimyati ยท Kamis, 07 November 2019 - 07:23 WIB
Pikat Wisman Berkunjung ke Bali, Masyarakat Kenalkan Budaya Kelola Sampah

Mengenalkan budaya kelola sampah di Bali (Foto Ist)

BALI, iNews.id - Pesona keindahan Pulau Dewata Bali selalu saja memikat wisatawan untuk berkunjung. Bali dikunjungi oleh 16 juta wisatawan setiap tahun dan menyumbang $7,6 miliar dolar AS pada 2018, yaitu sekitar 40 persen pendapatan negara dari sektor pariwisata.

Sayangnya, pada 2019, telah terjadi penurunan jumlah pengunjung yang signifikan. Penurunan jumlah tersebut menyebabkan menurunnya belanja pariwisata di Bali sekitar 8%. Salah satu alasan utama turis asing tidak kembali ke Bali adalah sampah.

Bali menghasilkan sekitar 1,6 juta ton sampah per tahun dan 20% adalah sampah plastik. Maka itu, perlu solusi untuk mengatasi persoalan sampah untuk memikat wisatawan kembali ke Bali. Bir Bintang, sebagai minuman bir ikonik Indonesia, bekerja sama dengan aktivis lingkungan Gary Bencheghib, pendiri Make A Change World meluncurkan kampanye untuk memperkenalkan budaya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab untuk melindungi Bali.

Kampanye ini juga akan mencakup pemasangan 100 trash booms di sekitar Bali, solusi teknologi terjangkau untuk jebakan sampah yang dikembangkan oleh perusahaan startup lingkungan asal Jerman, Plastic Fisher. Trash booms secara efektif dapat menghentikan sampah masuk ke sungai, saluran air, dan pantai Bali.

"Bir Bintang adalah merek ikonik Indonesia. Setiap orang yang mengunjungi Bali akan selalu senang memiliki pengalaman bersama Bintang. Ini adalah komitmen kami untuk mendukung pariwisata Indonesia dan memastikan Bali terus menjadi tujuan bintang. Kami percaya cara terbaik untuk mencegah sampah ke pantai dan laut dimulai dari budaya perilaku kelola sampah yang bertanggung jawab dan mencegah sampah ke sungai,” kata Mariska van Drooge, Marketing Director PT Multi Bintang Indonesia Niaga, di Bali, belum lama ini.

Sementara itu, Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Safri Burhanuddin mengatakan, pihaknya senang, Multi Bintang ikut terlibat.

"kami sangat menghargai usaha masyarakat yang didukung oleh swasta seperti ini. Dalam 10 tahun terakhir, kami telah meluncurkan ekspedisi di beberapa sungai paling tercemar di dunia dan telah melihat sendiri perlunya tindakan sesegera mungkin. Jadi, untuk merayakan sepuluh tahun berdiri, kami sangat senang untuk berkontribusi ke tempat awal semuanya dimulai yaitu Bali," kata Gary Bencheghib.

Sebagai permulaan, akan ada tiga trash booms sungai di anak-anak Sungai Ayung, jalur air terpenting di Bali. Trash booms pertama telah dipasang di Sungai Ye Poh di Desa Kerobokan Kelod. Sedangkan, trash booms yang lain akan dipasang beberapa minggu mendatang dan selanjutnya akan diikuti oleh kampanye edukasi interaktif soal tata kelola sampah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya untuk tidak membuang sampah di sungai.

"Kami menciptakan trash booms yang efektif dan terbuat dari bahan-bahan lokal untuk memberikan solusi pengumpulan sampah di sungai yang sederhana dan efisien sesegera mungkin. Alat ini mudah dirakit dan dirawat. Sebelumnya, kami telah berhasil mengimplementasikan ini di Sungai Citarum," kata Moritz Schulz, Leading Engineer Plastic Fischer.

Untuk melacak perkembangan dan keefektifan kegiatan ini, sebuah platform online bernama River Watch diaktifkan untuk memantau sungai dan memberikan edukasi publik. Platform online ini diharapkan menjadi platform sungai bersih di seluruh dunia.

Sebagai sebuah merek, Bir Bintang terus menemukan cara untuk memperbaiki jejak lingkungannya. Semua botol Bir Bintang dapat dikembalikan dan digunakan kembali. Kaleng dan tutup botol Bintang juga terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang dengan mudah.

Kampanye ini akan mencakup ekspedisi untuk melacak jalur air sungai Ayung, serta pemutaran film dan video edukasi publik di pasar tradisional dan banjar setempat, pembersihan komunitas dan sesi edukasi.


Editor : Vien Dimyati