Travelling sambil Ibadah Haji dan Umrah, Yuk Kelola Keuangan dari Sekarang

Vien Dimyati ยท Rabu, 22 Mei 2019 - 12:31 WIB
Travelling sambil Ibadah Haji dan Umrah, Yuk Kelola Keuangan dari Sekarang

Kelola keuangan untuk ibadah haji dan umrah (Foto: The National)

JAKARTA, iNews.id - Travelling sambil ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci, belakangan sedang tren dilakukan anak milenial. Mereka tidak harus menunggu tua untuk melakukan ibadah ini. Maka itu, banyak milenial yang mulai mengelola keuangannya untuk travelling sambil ibadah haji dan umrah.

Narada Asset Management, melalui kampanye #investasibukanpunyaorangkayasaja dan #investasipunyasemuaorang mengajak milenial mulai mengelola keuangan pribadi. Mereka harus menggiatkan berinvestasi sejak dini untuk mencapai tujuan yang diinginkan, salah satunya ibadah ke Tanah Suci.

Milenial dapat mengatur waktu, kebutuhan dan biaya. Kapan waktu untuk berhaji atau umrah dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan biayanya. Kebutuhan yang diperlukan sebelum berangkat hingga kembali ke Tanah Air juga turut menentukan besaran biaya. Total pembiayaan akan menentukan besaran investasi yang dibutuhkan dalam periode waktu yang sudah ditentukan.

Manager Angkat Koper (tour and travel Haji dan Umrah) Muhammad Dzulfahmi mengatakan, perbedaan umum yang harus diketahui mengenai haji dan umrah adalah pada waktu dan tempat. Umrah dapat dilaksanakan sewaktu-waktu (setiap hari, setiap bulan, setiap tahun) dan hanya di Makkah.

Sedangkan Haji, hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara 8 Dzulhijjah hingga 12 Dzulhijjah, dan dilaksanakan sampai ke luar kota Makkah. Ibadah umrah tidak ada kuota, namun untuk haji, terdapat kuota yang menyebabkan antrean bagi jamaah yang ingin beribadah.

Lama antrean setiap wilayah juga berbeda-beda, mulai 16-23 tahun waktu menunggu untuk ONH Regular dan 6-9 tahun untuk ONH Plus. Perbedaan waktu ini memengaruhi biaya yang perlu disiapkan untuk melaksanakan ibadah ke tanah suci.

“Biaya yang dibutuhkan untuk umrah dimulai dari harga Rp23,5 juta, sedangkan untuk perjalanan haji dimulai dari harga Rp45 juta yang sudah mengakomodir transportasi, akomodasi, makanan, dan kebutuhan pokok selama beribadah. Namun, ada kebutuhan tak terduga yang perlu diperhatikan juga baik dalam persiapan maupun ketika sudah berada di Tanah Suci, seperti kenaikan kurs dollar, pulsa, kelebihan bagasi, belanja berlebih, suntik meningitis, sampai baju yang digunakan untuk menyesuaikan dengan cuaca di Tanah Suci. Komponen biaya yang tidak terlihat ini justru terkadang lebih besar daripada pembiayaan untuk kebutuhan utama ketika ibadah," kata Muhammad Dzulfahmi, di Jakarta, Selasa 21 Mei 2019.

Sementara itu, Chief Marketing Officer Narada Asset Management N. Anie Puspitasari menjelaskan, perencanaan keuangan yang baik dimulai dengan mengetahui kemampuan finansial masing- masing dan menentukan tujuan yang akan dicapai.

"Untuk beribadah ke Tanah Suci, tidak hanya diperlukan persiapan mental namun juga finansial. Terutama persiapan untuk naik haji di mana dalam melakukan pendaftaran haji dan mendapatkan nomor porsi haji dibutuhkan setoran awal Rp25 juta untuk kemudian menunggu keberangkatan hingga 16-23 tahun. Sedangkan untuk ibadah umrah memiliki waktu yang lebih fleksibel tergantung kesiapan dari masing-masing orang," katanya.

Mengingat waktu tunggu yang sangat lama, lanjutnya, maka sebaiknya mulai menyiapkan biaya awal ini dari sekarang agar ketika sampai di waktu keberangkatan, masih bisa beribadah dalam keadaan sehat dan mampu mengikuti semua kegiatan ibadah di Tanah Suci.

Anie menambahkan, biaya awal ini seringkali tidak direncanakan, sehingga hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengelola keuangan untuk menyiapkan biaya ini. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan adalah setiap orang harus memiliki komitmen untuk menyisihkan dana baik itu melalui tabungan atau investasi.

Kedua, perhatikan pos-pos pengeluaran, yang tidak penting sebaiknya dihindari. Ketiga, memilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko, jangka waktu, dan kemampuan finansial. Salah satu produk yang memberikan manfaat relatif lebih besar dibandingkan jenis investasi lainnya seperti menabung adalah berinvestasi di reksadana.

"Investasi reksadana dikelola oleh manajer investasi dan bisa dimulai dengan nominal yang sangat terjangkau mulai dari Rp100.000 dengan tingkat return yang relatif lebih tinggi berkisar antara 10% - 20% untuk reksadana saham," katanya.


Editor : Vien Dimyati