Makanan Terenak di Dunia, Ini yang Spesial dari Rendang

Siska Permata Sari ยท Minggu, 02 Desember 2018 - 20:38 WIB
Makanan Terenak di Dunia, Ini yang Spesial dari Rendang

Nusantara Marandang digelar meriah dengan memperkenalkan aneka makanan khas Sumatera Barat. (Foto: iNews.id/Siska Permata Sari)

JAKARTA, iNews.id - Sudah bukan rahasia umum lagi jika randang atau randang memiliki rasa yang khas dan lezat. Tak hanya bagi lidah Indonesia, masakan khas Sumatera Barat ini juga mampu diterima dunia. Bahkan, dijuluki sebagai makanan terlezat di seluruh dunia mengalahkan sushi dari Jepang dan Tom Yam asal Thailand.

Hal tersebut diketahui dari survei yang diterbitkan oleh media internasional CNN pada 2017 silam. Randang dan nasi goreng dari Indonesia menempatkan dua posisi teratas sebagai makanan terlezat di dunia.

Randang sendiri merupakan daging sapi yang perlahan direbus dengan santan dan campuran serai, lengkuas, bawang putih, kunyit, jahe, serta cabai untuk memberikan rasa pedas. Setelah itu, kemudian rebus selama tiga sampai delapan jam untuk menciptakan hidangan yang empuk dan kelezatan dari bumbu-bumbu rempah yang meresap ke dalam daging.

Melihat potensi ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat saat ini tengah gencar mempromosikan randang sebagai makanan khas Sumbar dan nasional. Lewat festival 'Nusantara Marandang', Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengungkapkan alasan mengapa randang menjadi spesial.

"Mengapa randang spesial dan terkenal di Barat, karena randang ini mirip dengan steak. Kalau di Barat kan steak, dagingnya itu hanya dipanggang dan bumbunya dioleskan. Kalau randang, itu memasaknya dirandang, di mana bumbunya meresap sampai ke dalam daging," kata Irwan di festival Nusantara Marandang yang diadakan di Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Minggu (2/12/2018).

Tak hanya cara memasak dan cita rasa rempah yang kaya di randang, masakan ini ternyata juga memiliki nilai adat-istiadat yang kental, khususnya di Sumatera. Sebab, randang ini sering disajikan pada acara-acara seremonial adat untuk tamu terhormat dan hari-hari besar.

"Randang khas Sumatera Barat juga memiliki nilai adat dan sosial budaya. Setiap peristiwa adat yang harus tersedia sebagai syarat ya randang. Buat pesta adat, Idul Adha, Idul Fitri, randang itu menu wajib," kata dia.

Randang juga memiliki filosofi tersendiri yang mewakili empat pilar di Sumatera Barat atau Minangkabau, yakni daging yang melambangkan Niniak Mamak atau para pemimpin suku adat. Kemudian karambia atau kelapa yang menjadi lambang cadiak pandai (kaum intelektual).

Setelah itu, lado (cabai), merupakan lambang "Alim Ulama" yang pedas, tegas untuk mengajarkan syariat agama. Terakhir adalah pemasak atau bumbu, lambang dari keseluruhan masyarakat Minangkabau.


Editor : Tuty Ocktaviany