Sambut New Normal, Pelaku Kuliner Harus Beradaptasi dengan Teknologi

Vien Dimyati ยท Sabtu, 27 Juni 2020 - 17:48 WIB
Sambut New Normal, Pelaku Kuliner Harus Beradaptasi dengan Teknologi

Pelaku kuliner adaptasi di era New Normal (Foto : Kemenparekraf)

JAKARTA, iNews.id - Para pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk kuliner didorong untuk cepat beradaptasi di masa normal baru. Semua kegiatan harus berpedoman pada protokol kesehatan.

Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Ardhea Mustika Sari mengatakan, kuliner merupakan bagian dari sektor pariwisata yang terkena dampak langsung dari pandemi Covid-19.

Dia mencontohkan kuliner di Kota Solo yang dikenal dengan berbagai menu khas dan bisa dinikmati selama 24 jam.

"Tetapi begitu masa pandemi ini hampir semua subsektor pariwisata tak terkecuali kuliner ikut terdampak otomatis mengalami penurunan omzet yang sangat tajam," kata Ardhea dalam virtual talkshow bertajuk "Strategi Jualan Kuliner pada Era New Normal di Wilayah Surakarta dan Sekitarnya", Jumat (26/6/2020)

Turut hadir dalam diskusi tersebut Kepala Dinas Pariwisata Kota Solo Hasta Gunawan, Wakil Ketua ASITA Jawa Tengah Daryono, dan Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh.

Ardhea kemudian mendorong agar para pelaku usaha kuliner untuk cepat bangkit dengan beradaptasi dan melakukan segala kegiatan yang berpedoman pada protokol kesehatan. Termasuk dengan lebih memanfaatkan teknologi.

"Banyak kehidupan yang berubah ke arah digital seperti melakukan teleconference atau virtual meeting dan juga webinar. Ini adalah bukti digitalisasi merupakan bagian dari era normal baru yang berlaku kepada semua sektor termasuk sektor kuliner yang diharapkan dapat membawa suatu terobosan, khususnya di Surakarta,” kata Ardhea.

Hal senada dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Hasta Gunawan. Dia mengatakan para pelaku di sektor kuliner juga harus dapat melakukan terobosan dengan mengedepankan kreativitas dalam mengelola produk. Di antaranya bagaimana mengemas jenis-jenis makanan yang bisa lebih awet meski tanpa pengawet.

"Kita harus terus berpikir dan mengembangkan bagaimana kreativitas-kreativitas di bidang pengemasan ini menjadi lebih menarik konsumen," kata dia.

Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Frans Teguh mengatakan, pandemi Covid-19 telah membawa semua untuk memasuki era kenormalan baru yang mengisyaratkan masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi ini, khususnya sektor ekonomi kreatif yang menopang perekonomian nasional.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah menyusun upaya dan langkah-langkah pemulihan dalam menyambut kondisi normal baru di sektor pariwisata.

"Pandemi Covid-19 bukan hanya memberikan dampak yang besar kepada sektor pariwisata tetapi juga sektor ekonomi kreatif," kata Frans Teguh.

Frans menjelaskan, pihaknya akan terus berupaya memberikan pendampingan pada pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dalam memasuki normal baru.

Kemenparekraf/Baparekraf sedang menyiapkan handbook untuk pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sebagai turunan yang lebih detil dari protokol yang telah disusun Kementerian Kesehatan berdasarkan masukan dari Kemenparekraf untuk sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Protokol ini nantinya tidak terbatas pada sektor pariwisata saja, selain ditujukan untuk hotel, homestay, restoran/rumah makan, dan daya tarik wisata, protokol ini juga akan menyasar berbagai kegiatan kreatif yang sifatnya crowd-gather seperti gelanggang seni, kegiatan produksi film, TV, dan iklan serta usaha-usaha ekraf lainnya,” kata Frans Teguh.

Dia juga menjelaskan setidaknya terdapat tiga kunci terkait protokol normal baru tersebut yaitu terkait kebersihan, kesehatan dan keamanan (Cleanliness, Health, and Safety/CHS).

“Implementasi protocol CHS (Cleanliness, Health, and Safety) penting diimplementasikan oleh para pelaku kuliner di kota Surakarta untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk mau mencicipi ragam kuliner di Kota Surakarta kembali,” kata Frans Teguh.

Editor : Vien Dimyati