Eksplor Keunikan Karimunjawa Melihat Fauna Langka di Hutan Mangrove

Vien Dimyati ยท Selasa, 11 September 2018 - 19:00 WIB
Eksplor Keunikan Karimunjawa Melihat Fauna Langka di Hutan Mangrove

Keindahan Karimunjawa (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Travelling ke Karimunjawa, identik dengan wisata bahari yang memesona. Namun, jika Anda ingin mendapatkan pengalaman baru ketika ke Karimunjawa, cobalah untuk mengeksplor dengan berkunjung ke hutan mangrove. Ada banyak fauna langka di sini yang masih dapat ditemukan, seperti Elang Laut Dada Putih, Penyu Sisik, hingga Penyu Hijau.

Memang, sejak 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan sebagai Taman Nasional dan dikelola oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Taman Nasional ini merupakan ekosistem asli dan rumah bagi hampir 400 spesies fauna laut dengan ragam ikan hias warna warni yang hidup di terumbu karang.

Bahkan, fauna langka juga menghuni Taman Nasional Karimunjawa seperti Elang Laut Dada Putih, penyu sisik dan penyu hijau. Kawasan hutan mangrove menjadi lokasi tepat untuk penggemar bird watching dan fotografer.

Wisata maritim bukanlah satu-satunya yang dimiliki Karimunjawa. Ternyata wisata religi dengan situs bersejarah makam Sunan Nyamplung hingga wisata seni dan budaya Karimunjawa yang belum diekplorasi menjadi daya pikat wisatawan.

Karimunjawa adalah kepulauan dengan status administratif Kecamatan di Laut Jawa yang termasuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Berdasarkan legenda yang beredar, Pulau Karimunjawa ditemukan oleh Sunan Muria. Legenda itu berkisah tentang Sunan Muria yang memerintahkan putranya, Amir Hasan ke sebuah pulau yang nampak "kremun-kremun" (kabur) dari puncak Gunung Muria untuk mengembangkan ilmu agamanya.

Karena tampak "kremun-kremun" akhirnya kepulauan ini dikenal dengan nama "karimunjawa" sampai sekarang. Amir Hasan kelak dikenal sebagai Sunan Nyamplung karena menanam biji pohon Nyamplung (Calophyllum inophyllum L) di Karimunjawa.

Pohon Nyamplung ini ternyata bermanfaat sebagai pemecah angin (wind breaker) untuk tanaman pertanian dan konservasi pantai, belakangan diketahui kalau biji nyamplung juga dapat dimanfaatkan sebagai biofuel. Sampai sekarang, makam Sunan Nyamplung masih ramai dikunjungi, baik oleh peziarah maupun oleh pengunjung yang tertarik mempelajari sejarah Islam yang berkembang di kepulauan ini sejak abad ke-15.

Dengan luas daratan ±1.500 hektare dan perairan ±110.000 hektare, di lima pulau yang berpenghuni. Beragam suku yang menghuni Karimunjawa adalah suku Jawa, Bugis, Madura serta Bajo, Buton dan Mandar yang hidup rukun secara turun temurun.

Ada banyak hal yang menjadikan wisata ke Karimunjawa memiliki keunikan yang tidak ada di taman nasional lain di Indonesia. Ekosistemnya yang asli, terumbu karang yang sehat, fauna langka dan pulau-pulau resor yang berwawasan lingkungan. Keramahan penduduk dan hidangan lezat dengan bahan baku segar hasil tangkapan nelayan lokal.

Berkembangnya sektor pariwisata telah mendorong pemerintah untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik. Listrik yang tersedia 24 jam, pengembangan Bandar Udara Dewadaru dan pembangunan Pelabuhan Legon Bajak dan masih banyak lagi demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dan pengunjung yang datang berwisata.

Perbaikan dan pembangunan infrastruktur pariwisata membuat masyarakat lokal mendapat pengaruh positif dari perkembangan pariwisata di daerahnya. Belum lagi masyarakat dapat mengisi kebutuhan sumber daya pariwisata seperti penginapan, restoran serta menjajakan ragam suvenir khas. Suvenir yang perlu dibawa pulang, tentunya bukan pasir pantai, karena akan merusak lingkungan. Suvenir penganan ikan, gelang dan aksesori yang terbuat dari kayu dewadaru, stigi atau kayu kalimasada bisa jadi pilihan.

Pada bulan-bulan tertentu peziarah ramai mengunjungi situs makam Sunan Nyamplungan. Peziarah banyak memilih untuk menginap di penginapan di pulau Karimunjawa.

Pilihan lainnya yang banyak diminati wisatawan mancanegara adalah menginap di pulau-pulau resor. Pulau-pulau resor yang bisa dikunjungi di Karimunjawa di antaranya adalah Pulau Menjangan dan Pulau Menyawakan (Kura-Kura Resort).

Selain itu masih ada wisata pantai di Pulau Karimunjawa, Pantai Ujung Gelam, hingga bird watching di hutan mangrove. Untuk makan malam, di alon-alon Karimunjawa dekat pelabuhan ada berbagai kedai ikan bakar dadakan yang segar dan lezat.

Perjalanan ke Karimunjawa dapat ditempuh dengan penerbangan dari Bandara Ahmad Yani Semarang atau Bandara Djuanda Surabaya. Ada juga resor yang menggunakan pesawat charter untuk tamu-tamunya terbang ke Karimunjawa. Opsi lain adalah pelayaran dengan KM Kartini, KM Express Bahari, atau KM Siginjai dari Jepara.

Rahman Hidayat selaku Asisten Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Pelayaran, Perikanan dan Pariwisata, baru-baru ini melakukan kunjungan ke Karimunjawa. Dia menekankan dukungan infrastruktur pariwisata harus berwawasan lingkungan dan sesuai dengan kearifan lokal.

Pengelolaan sampah terpadu perlu dibangun di Karimunjawa agar masalah sampah dapat segera diantisipasi, simultan dengan edukasi kebersihan dan bahaya sampah plastik. "Taman Nasional memang tidak diproyeksikan sebagai lokasi mass tourism, kelestarian lingkungan harus diutamakan," kata Rahman, melalui keterangan resminya, Selasa (11/9/2018). 

 


Editor : Vien Dimyati