Ingin Diakui Mancanegara, Ulos Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia

Vien Dimyati ยท Kamis, 20 September 2018 - 11:36 WIB
Ingin Diakui Mancanegara, Ulos Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia

Kain Ulos diusulkan jadi warisan budaya dunia tak benda (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak warisan budaya yang dapat dilestarikan. Warisan nenek moyang yang terkenal unik ini harus diakui dunia. Salah satunya, Ulos yang menjadi kain khas masyarakat Batak, Sumatera Utara (Sumut).

Ya, kain yang memiliki peranan penting dalam menjalankan adat suku Batak ini diusulkan ke UNESCO World Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Dunia Tak Benda agar mendapat pengakuan dunia.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan akan mendukung Ulos, kain khas masyarakat Batak, Sumut untuk diusulkan ke UNESCO World Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Dunia Tak Benda agar mendapat pengakuan dunia.

"Kemenpar siap memberikan dukungan untuk memperjuangkan Ulos sebagai UNESCO World Intangible Cultural Heritage ke markas besar UNESCO di Paris bersama dengan Dubes RI di Paris Hotmangaradja Pandjaitan,” kata Menpar Arief Yahya ketika menghadiri Pameran Ulos, Hangoluan & Tondi di Museum Tekstil Jakarta, Rabu 19 September 2018.

Pameran Ulos Hangoluan & Tondi berlangsung selama 20 September hingga 7 Oktober 2018. Pemeran ini digelar oleh Kerri Na Basaria bersama Tobatenun di bawah Yayasan DEL. Sebanyak 50 helai Ulos langka rata-rata berusia di atas 50 tahun koleksi pribadi Devi Pandjaitan boru Simatupang dipamerkan dalam pameran tersebut.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, Kemendikbud pada 17 Oktober 2014 telah menetapkan kain Ulos sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional dan 2016 yang lalu sudah mulai disusun dossier-nya tetapi hingga hari ini belum diusulkan secara resmi ke UNESCO. “Untuk melanjutkan perlu dilakukan koordinasi bersama antara Kemendikbud dengan kabupaten dan Kemenpar siap support,” kata Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya juga meminta bantuan Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) untuk menyediakan rumah kreasi sebagai inkubasi pengrajin Ulos seperti IKKON, program yang digagas Kepala Bekraf Triawan Munaf, sekaligus menjadi bagian dalam pelestarian dan pengembangan kain Ulos menuju World Intangible Cultural Heritage.

Seperti diketahui, nenek moyang suku batak dulunya hidup di daerah pegunungan. Kebiasaan bekerja di ladang membuat mereka harus terbiasa melawan dinginnya cuaca. Karena inilah maka Ulos dibuat.

Ulos dapat diartikan sebagai selimut yang menghangatkan tubuh dan melindungi diri dari terpaan udara dingin. Menurut leluhur suku Batak, sumber kehangatan itu ada tiga, yaitu, matahari, api, dan ulos.

Dari ketiganya, Ulos adalah sumber kehangatan yang paling nyaman dalam kehidupan sehari-hari. Awalnya Ulos hanya berfungsi sebagai penghangat tubuh biasa. Namun, lama-kelamaan Ulos memiliki arti penting setelah sering digunakan oleh para tetua adat. Akhirnya Ulos dijadikan simbol adat suku Batak.


Editor : Vien Dimyati