Update Virus Korona Indonesia

Hidroksiklorokuin dan Klorokuin Diuji Coba Lagi, Kali Ini sebagai Pencegah Covid-19

Anton Suhartono ยท Selasa, 30 Juni 2020 - 22:06 WIB
Hidroksiklorokuin dan Klorokuin Diuji Coba Lagi, Kali Ini sebagai Pencegah Covid-19

Inggris akan menguji coba hidroksiklorokuin dan klorokuin lagi, kali ini sebagai obat pencegah infeksi virus corona (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghentikan uji coba obat hibdroksiklorokuin bagi pasien Covid-19. Namun obat antimalaria itu, termasuk klorokuin, akan diuji coba kembali oleh para ahli di Inggris, kali ini bukan sebagai penyembuh tapi pencegah dari infeksi virus corona.

Regulator Inggris, Badan Pengawas Obat-obatan dan Produk Kesehatan (MHRA), sudah memberi lampu hijau untuk memulai uji coba terhadap dua obat ini.

MHRA mengeluarkan persetujuan untuk memulai kembali proyek uji coba bernama COPCOV. Uji coba sebelumnya diberlakukan bagi pasien, namun dihentikan karena tidak efektif serta menimbulkan efek samping.

Uji coba untuk pencegahan ini dilakukan secara acak melibatkan relawan petugas medis garis depan di seluruh dunia yang berisiko terinfeksi virus corona, jumlahnya diperkirakan 40.000 orang.

Proyek ini dipimpin oleh Unit Penelitian Obat-obatan Tropis Mahidol (MORU), bagian dari Universitas Oxford, yang berbasis di Bangkok, Thailand.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Maret lalu mengatakan, hidrokiklorokuin bisa menjadi penentu dari wabah mematikan ini. Trump juga menggunakannya selama 2 pekan sebagai pencegahan, meskipun regulator AS, Food and Drug Administration (FDA), menyebut bahwa kemanjurannya dalam mencegah virus corona tidak terbukti.

Namun pakar Universitas Oxford, Nicholas White, yang memimpin uji coba COPCOV, mengatakan, studi tentang hidroksiklorokuin sebagai pencegahan belum final.

"Hidroksiklorokuin masih bisa mencegah infeksi dan ini perlu ditentukan dalam uji coba terkontrol secara acak. Pertanyaan mengenai apakah itu dapat mencegah Covid-19 atau tidak, tetap sama pentingnya seperti sebelumnya," kata White, dikutip dari Reuters, Selasa (30/6/2020).

Tim dari White mengatakan, perekrutan tenaga kesehatan Inggris akan dilanjutkan pekan ini. Rencana serupa sedang dilakukan untuk penentuan lokasi di Thailand dan negara-negara Asia Tenggara serta Afrika dan Amerika Selatan. Hasilnya diharapkan akan keluar pada akhir tahun ini.


Editor : Anton Suhartono