Update Virus Korona Indonesia

KAI Pangkas Belanja Modal Rp3,5 Triliun akibat Dampak Covid-19

Antara ยท Jumat, 22 Mei 2020 - 17:52 WIB
KAI Pangkas Belanja Modal Rp3,5 Triliun akibat Dampak Covid-19

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memangkas belanja modal sebesar Rp3,5 triliun. *F

JAKARTA, iNews.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memangkas belanja modal sebesar Rp3,5 triliun. Hal ini sebagai langkah strategis untuk menambal arus kas yang bocor akibat pandemi Covid-19.

“Kami merencanakan capital expenditure (belanja modal) awalnya Rp12 triliun, kemudian ada pengurangan Rp3 triliun-Rp3,5 triliun, sehingga belanja modal hanya Rp9 triliun,” kata Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Untuk itu, Didiek mengatakan, KAI harus mengurangi atau menunda investasi, terutama yang sifatnya bukan proyek strategis nasional (PSN).

“Seperti LRT Jabodetabek yang investasinya Rp6,9 triliun, konstruksinya di Bekasi Timur, Cawang, Dukuh Atas ini sesuai pemerintah, (PSN) tetap dilaksanakan sisanya kami kurangi,” katanya.

Dia menuturkan sisa belanja modal Rp9 triliun difokuskan untuk pengembangan angkutan barang di Sumatera Selatan. “Itu lah yang akan menjadi mesin pertumbuhan, terbukti masa Covid-19 ini, angkutan barang menjadi faktor pendapatan KAI,” ujar dia.

Didiek juga telah menyiapkan skenario terburuk serta asumsi kinerja apabila Covid-19 bertahan hingga Agustus 2020 dan Desember 2020 mengingat sumber pendapatan dari penumpang tergerus hingga 90-93 persen.

Kapasitas kereta api jarak jauh hanya diperbolehkan maksimal 50 persen dan kereta rel listrik (KRL) 35 persen dari kapasitas semestinya mengikuti aturan yang berlaku, yakni Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Virus Corona (Covid-19) serta Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 4 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19).


Editor : Ranto Rajagukguk