Update Virus Korona Indonesia

Penuh Haru, Umat Islam Jerman Diizinkan Salat Jumat di Gereja saat Pendemi Corona

Antara ยท Sabtu, 23 Mei 2020 - 18:28 WIB
Penuh Haru, Umat Islam Jerman Diizinkan Salat Jumat di Gereja saat Pendemi Corona

Kota Berlin di Jerman. (Foto: AFP)

BERLIN, iNews.id – Sebuah gereja di Kota Berlin, Jerman, menampung umat Islam untuk Salat Jumat, kemarin. Ini dilakukan lantaran masjid di sana tidak dapat menampung lebih banyak jamaah sehubungan dengan ketentuan pembatasan sosial (social distancing) di negara itu saat pandemi virus corona (Covid-19).

Masjid Dar Assalam di Distrik Neuklln, Berlin, biasanya dapat menampung ratusan jamaah untuk Shalat Jumat. Namun, selama pemberlakuan aturan pembatasan akibat Covid-19 oleh Pemerintah Jerman, masjid itu hanya dapat diisi 50 orang pada waktu yang sama.

Oleh karena itu, selama Bulan Suci Ramadhan, Gereja Martha Lutheran yang berada di dekat masjid itu, ikut membantu menampung jamaah agar dapat beribadah dan memberi ruang bagi para ulama menyampaikan khotbah dalam bahasa Arab dan Jerman.

“Ini adalah sinyal yang bagus dan memberi kebahagiaan saat Ramadhan di tengah krisis,” kata Imam Masjid Dar Assalam, Mohamed Taha Sabry, yang memimpin Shalat Jumat di gereja itu, kepada Reuters, kemarin.

Pada saat itu, umat Islam melangsungkan ibadah mereka di dalam ruangan yang dikelilingi jendela kaca bergambar Bunda Maria.

“Pandemi (Covid-19) membuat kami (umat Islam dan Nasrani) bersatu sebagai komunitas. Krisis ini mendekatkan kami untuk hidup berdampingan,” kata dia.

Rumah ibadah di Jerman kembali buka sejak 4 Mei setelah sempat tutup selama berpekan-pekan karena aturan karantina wilayah Covid-19. Selama pandemi, warga yang beribadah wajib jaga jarak setidaknya 1,5 meter dari jamaah lainnya.

Gereja Martha Lutheran, bangunan bergaya neorenaissance dengan dominasi bata merah, berada di Distrik Kreuzberg, Berlin, menunjukkan pemandangan yang berbeda apabila dibandingkan dengan situasi di pusat kebudayaan Neukoelln. Umat Islam di Berlin biasanya berkumpul di pusat kebudayaan itu.

“Cukup aneh bagi saya, karena ada alat musik dan gambar-gambar (saat ibadah),” kata seorang jamaah, Samer Hamdoun. “Namun, saat kalian melihatnya, kalian akan lupa dengan detail-detail kecil, karena pada akhirnya, ini adalah rumah Tuhan,” ujar dia.

Dewan Islam Jerman, organisasi yang menaungi 400 masjid di negara Eropa itu, pada April lalu menyatakan, banyak masjid kesulitan dana saat karantina wilayah yang turut diberlakukan selama Ramadhan. Pasalnya, saat Bulan Puasa, masjid banyak menerima sumbangan dana dari jamaah.

Sementara itu, pendeta Gereja Martha Lutheran, Monika Matthias mengatakan, dia merasa begitu tersentuh oleh panggilan ibadah dari para Muslim di sana.

“Saya ambil bagian dalam doa,” kata dia. “Saya ikut memberi ceramah dalam Bahasa Jerman. Selama doa, saya hanya dapat mengatakan ya, ya, ya, mengingat kami prihatin terhadap masalah yang sama, dan kami ingin belajar dari anda, dan indah rasanya mengetahui kita merasakan hal yang sama,” ujar dia.


Editor : Ahmad Islamy Jamil