IMF Sebut Tekanan Inflasi di Seluruh Dunia Meningkat Akibat Varian Omicron

Suparjo Ramalan
Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menyebut situasi pandemi saat ini bisa menyebabkan tekanan inflasi dari risiko Covid-19 varian Omicron. (foto: AFP)

JENEWA, iNews.id - Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF), Gita Gopinath menyebut bank-bank sentral tidak memiliki ruang untuk menjaga kebijakan moneter agar tetap longgar dan menahan suku bunga rendah. Dia menyebut, situasi pandemi saat ini bisa menyebabkan tekanan inflasi dari risiko Covid-19 varian Omicron.

Dikutip dari Reuters, Gopinath menyebut bahwa pihaknya memperkirakan Covid-19 yang lebih menular seperti Omicron dapat merugikan ekonomi global lebih lanjut hingga 5,3 triliun dolar AS, di samping kerugian yang diproyeksikan saat ini sebesar 12,5 triliun dolar AS.

"Kami sekarang berada dalam fase di mana negara-negara di seluruh dunia tidak memiliki ruang untuk menjaga kebijakan moneter sangat longgar, untuk menjaga suku bunga sangat rendah. Kami melihat tekanan inflasi meningkat di seluruh dunia," ujar Gopinath dikutip, Jumat (10/12/2021).

Dia menambahkan, kekhawatiran atas Omicron menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah dilaporkan oleh 57 negara sejak pertama kali terdeteksi bulan lalu di Afrika Selatan dan Hong Kong adalah sebuah pukulan nyata untuk pemulihan ekonomi di berbagai negara.

"Jadi, pikirkan situasi di mana Anda bisa membuat pandemi ini bertahan lebih lama, Anda memiliki gangguan pasokan yang lebih lama yang memberi tekanan inflasi, dan kemudian kita memiliki risiko nyata dari sesuatu yang telah kita hindari sejauh ini, yaitu kekhawatiran stagflasi," ucap Gopinath.

Gopinath menuturkan, IMF telah mensimulasikan kasus apa yang akan terjadi jika ada varian yang lebih menular daripada varian Delta, mengacu pada strain dominan saat ini.

"Proyeksi kami adalah bahwa itu akan menambah kerugian lain sekitar 5,3 triliun dolar AS pada ekonomi global. Jadi itu selain proyeksi kerugian 12,5 triliun dolar AS saat ini," ucapnya.

Editor : Aditya Pratama
Artikel Terkait
Nasional
2 hari lalu

Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah Nyaris Sentuh Rp16.900 per Dolar AS

Nasional
2 hari lalu

BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Februari 2026

Bisnis
8 hari lalu

BRI Pangkas Suku Bunga PNM Mekaar 5 Persen, Wujudkan Asta Cita Perkuat Ekonomi Rakyat

Nasional
9 hari lalu

Lesu, Rupiah Hari Ini Ditutup Terkoreksi ke Rp16.828 per Dolar AS

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal