JAKARTA, iNews.id - PT PLN (Persero) melaporkan konsumsi listrik di Indonesia turun hingga 24 persen dibanding biasanya. Hal ini seiring dengan imbauan work from home serta pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat virus corona (Covid-19).
Ikhsan menyampaikan hal serupa juga terjadi di negara lain yang terdampak Covid-19, seperti China turun hingga 8 persen, sedangkan Italia 20 persen dan Prancis hampir 16 persen. Kendati demikian beberapa sektor di Indonesia justru mengalami kenaikan drastis dalam penggunaan listrik.
“Dampak wabah itu memang selalu ada dua sisi, di samping adanya penurunan seperti ini tetapi di sisi lain malah muncul opportunity. Di tengah banyaknya industri bisnis yang menurun konsumsi listrik nya ada beberapa yang justru naik,” ujar General Manager PLN M Ikhsan Asaad dalam konferensi pers via daring, Selasa (14/4/2020).
Pada periode 1-30 Maret 2020 konsumsi listrik di mall turun hingga 9,45 persen, sedangkan hotel 17,38 persen. Kemudian pada sektor industri turun 18,48 persen dan perkantoran 38,9 persen.
Namun, berbeda dengan konsumsi listrik di apartemen justru naik 9,3 persen dan konsumsi rumah tangga naik 4 persen. Di samping itu, penggunaan listrik juga mengalami kenaikan pada sektor kesehatan, farmasi dan bisnis makanan.
“Di kondisi pandemi ini bagaimana kita tetap bisa survive ya itu tadi efisiensi, kita melihat poin-poin apa yang bisa kita hold. Saya rasa peluang PLN untuk tetap survive ada di konsumsi rumah tangga dan ada juga pada industri serta bisnis lain yang masih tetap bertahan seperti kesehatan, farmasi dan makanan,” ujar Ikhsan.
Ikhsan mengatakan di samping mengutamakan kesehatan para pegawai di seluruh Indonesia, saat ini PLN tengah memprioritaskan pasokan listrik ke rumah-rumah serta serta rumah sakit rujukan corona. Contohnya saja di Jakarta, PLN memperkuat pasokan listrik untuk mendukung setidaknya 20 rumah sakit rujukan, agar bisa melayani pasien positif corona tanpa ada gangguan kendala penggunaan listrik.