RIYADH, iNews.id - Kelompok Houthi Yaman memperingatkan maskapai-maskapai penerbangan, pelancong, serta pekerja untuk menjauhi bandara-bandara Arab Saudi. Peringatan itu disampaikan Minggu (11/10/2026), sehari setelah serangan Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Serangan tersebut merupakan yang paling mematikan dilakukan Houthi ke wilayah Saudi sejak lebih dari 10 tahun. Serangan itu juga terjadi di tengah eskalasi pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
"Kami memperbarui peringatan kepada semua maskapai, tenaga ahli, pegawai, pekerja, dan pelancong untuk tidak menggunakan bandara dan wilayah udara Arab Saudi, karena tempat-tempat tersebut rentan terhadap serangan dan telah menjadi arena operasi pasukan kami, kecuali bandara di Kota Makkah dan Madinah," bunyi pernyataan Houthi, seperti dikutip dari Reuters, Senin (12/10/2026).
"Kami mendesak semua pihak untuk merespons peringatan kami dengan serius, dan Arab Saudi memikul tanggung jawab atas setiap upaya pencegatan yang gagal."
Dari 12 korban tewas serangan Houthi pada Sabtu sore waktu setempat, empat di antaranya merupakan warga Saudi. Sementara delapan lainnya adalah warga AS, Banglaldesh, Mesir, Yordania, dan Sudan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk bergabung bersama Arab Saudi untuk memerangi kelompok Houthi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan, sebuah proyektil juga jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Provinsi Timur. Koalisi itu juga melaporkan telah mencegat sebuah drone di wilayah tersebut pada Minggu.