TOKYO, iNews.id - Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe memperingatkan, tawaran perundingan denuklirisasi dari Korea Utara (Korut) kepada Amerika Serikat (AS) bisa menjadi taktik untuk bermain-main dengan waktu.
Dalam komentar publik pertamanya sejak dialog antara Korut dan Korsel, Abe meragukan ketulusan dari Korut untuk berdialog.
"Saya berulang kali mengatakan kita harus menciptakan situasi untuk memberi tekanan maksimal kepada Korea Utara sehingga mau melakukan pembicaraan. Bagaimanapun, sudah jelas Korut di masa lalu memperoleh banyak waktu untuk mengembangkan kemampuan nuklir dan rudalnya," kata Abe, memperingatkan, seperti dilansir AFP, Kamis (8/3/2018).
"Perundingan demi sebuah perundingan itu tidak berarti dan kita tidak boleh melonggarkan sanksi hanya karena Korut terbuka untuk melakukan pembicaraan," ujar Abe.
Meski ketegangan mulai mereda, Abe menegaskan posisi Jepang terhadap Korut tidak berubah. Dia menekankan, Korut perlu segera mengambil langkah konkret jika memang ingin melucuti senjata nuklirnya.
"Korut harus menunjukkan tindakan nyata terhadap denuklirisasi, dengan melepaskan program nuklirnya secara lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat dipulihkan lagi," katanya.
Pihaknya menantikan briefing dari delegasi Korsel terkait pembicaraan mereka dengan Korut pekan depan ini. Kepala Badan Intelijen Nasional sekaligus juru runding utama Korsel, Suh Hoon, akan ditugaskan ke Jepang untuk bertemu dengan Abe.
Korut sebelumnya menyatakan siap melucuti senjata nuklir jika ada jaminan keamanan. Namun, para analis memperingatkan, setiap jalan menuju kesepakatan AS-Korut mengenai senjata nuklir penuh dengan bahaya dan ketidakpastian.
Jepang berada dalam garis tembakan rudal Korut. Dua rudal balistik mematikan yang diuji coba pada tahun lalu melintasi wilayahnya. Hal ini memicu kemarahan dan ketegangan tingkat tinggi.