Netanyahu: Israel Siap Terima Gencatan di Gaza selama 42 Hari

Ahmad Islamy Jamil
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (Foto: Reuters)

TEL AVIV, iNews.id - Israel siap menerima gencatan senjata sementara di Jalur Gaza selama 42 hari. Sebagai imbalannya, Hamas harus membebaskan para tawanan Israel yang ditahan di wilayah kantong Palestina itu.

"Kami dapat menghentikan pertempuran selama 42 hari untuk mendapatkan kembali para tawanan, tetapi (militer) kami tidak akan menyerah untuk mencapai kemenangan total (dalam melenyapkan Hamas)," kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pertemuan tertutup dengan komite pertahanan dan urusan internasional Knesset (Parlemen Israel), seperti dikutip stasiun radio Kan pada Senin (3/6/2024).

Jumat (31/5/2024) lalu, Presiden AS Joe Biden merilis proposal gencatan senjata yang dibagi ke dalam tiga fase, untuk mengakhiri perang di Gaza. Tahap pertama mencakup gencatan senjata dan kembalinya beberapa tawanan yang ditahan Hamas. Setelah itu, kedua belah pihak akan melakukan negosiasi mengenai penghentian permusuhan tanpa batas untuk selanjutnya masuk ke tahap kedua gencatan senjata, di mana sisa tawanan yang masih hidup akan dibebaskan Hamas.

Dalam pidatonya Jumat lalu, Biden mengatakan bahwa proposal terbarunya itu bakal menciptakan masa depan yang lebih baik di Gaza tanpa kekuasaan Hamas. Namun, dia tidak menjelaskan secara perinci bagaimana hal tersebut dapat dicapai. Dia pun mengakui bahwa ada sejumlah poin yang masih perlu dinegosiasikan untuk berpindah dari fase satu ke fase dua.

Akhir pekan lalu, kepala penasihat kebijakan luar negeri Netanyahu, Ophir Falk, dalam sebuah wawancara dengan media Inggris Sunday Times, menyebutkan bahwa perdana menteri Israel itu telah menerima proposal Biden tersebut. Di lain pihak, Hamas untuk sementara juga menyambut baik inisiatif presiden AS itu.

Hamas menginginkan jaminan diakhirinya serangan di Gaza, penarikan semua pasukan penyerang, pergerakan bebas bagi warga Palestina, dan bantuan rekonstruksi. Namun, para pejabat Israel menolak hal itu dan menganggapnya sebagai langkah efektif untuk mengembalikan situasi ketika Hamas memiliki kekuasaan besar di Gaza seperti sebelum 7 Oktober 2023.

Editor : Ahmad Islamy Jamil
Artikel Terkait
Internasional
2 jam lalu

Miris, Muslimah Palestina Kehilangan Ratusan Anggota Keluarga di Gaza kini Ditangkap Imigrasi AS

Internasional
2 hari lalu

Skandal Jeffrey Epstein Guncang Israel, Ungkap Konflik Netanyahu dan Mantan PM Ehud Barak

Internasional
3 hari lalu

Mantan PM Israel Ehud Barak Disebut dalam Dokumen Jeffrey Epstein, Ini Komentar Netanyahu

Internasional
4 hari lalu

Libatkan Ribuan Tenaga Medis, Global Sumud Flotilla Akan Bergerak ke Gaza dari Laut dan Darat

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal