Maskapai Etihad Arways. (Foto: Mirror)
MNC Media, Gatot Trilaksono

JAKARTA, iNews.id – Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan gugatan tentang perlakuan diskriminatif yang diajukan penyandang disabilitas Dewi Aryani ke maskapai penerbangan Etihad Airways. Hakim memerintahkan Etihad untuk meminta maaf serta membayar ganti rugi materi dan nonmateri.

”Mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian. Menyatakan tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum, menghukum tergugat satu (Etihad) untuk menyampaikan permintaan maaf kepada penggugat melalui media cetak nasional,” kata Ketua Majelis Hakim Ferry Agustina dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (4/12/2017).

Ferry menjelaskan, permintaan maaf itu harus sesuai format dan bertuliskan ”Kami perusahaan maskapai Etihad Airways menyatakan permohonan maaf kepada saudari Dwi Aryani atas kelalaian petugas kami.”

Majelis hakim juga menghukum Etihad untuk membayar ganti rugi ke Dewi. ”Menghukum tergugat untuk membayar ganti rugi material Rp37 juta dan imaterial Rp500 juta,”kata Ferry.

Dewi menggugat Etihad, maskapai asal Uni Emirat Arab,  lantaran gagal berangkat ke Jenewa, Swiss. Peristiwa ini terjadi pada 5 April 2016. Dewi yang telah memesan tiket pulang-pergi berangkat ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Selepas check-in, Dewi yang menggunakan kursi roda dipaksa turun dari pesawat. Pihak maskapai berlasan Dewi tak memberitahukan bahwa dirinya adalah seorang penyandang disabilitas. Maskapai juga tak memberikan biaya penggantian tiket (refund) dan permintaan maaf.

Atas perlakuan diskriminatif tersebut, Dewi menggugat Etihad, PT Jasa Angkasa Semesta, dan dirjen udara kementerian perhubungan. Menurut kuasa hukum Dwi, Heppy Sebayang, gugatan ini merupakan bentuk untuk perjuangan mendapatkan keadilan bagi penyandang disabilitas.

Dewi menilai ketiga pihak tergugat melanggar Pasal 28 huruf i UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap Warga Negara Indonesia harus terbebas dari tindakan diskriminatif. Selain itu, melanggar UU Nomor 1/2009 tentang Penerbangan, yang menyatakan bahwa setiap penumpang yang dirugikan penyelenggara angkutan penerbangan berhak mendapatkan ganti rugi.

Dalam persidangan tersebut, majelis hakim juga membebankan biaya perkara kepada tergugat.  ”Menghukum tergugat satu (Etihad) untuk membayar ongkos perkara sebesar Rp1.011.000,” kata Ferry.

Menanggapi putuan tersebut, Dewi mengaku sangat bahagia dan bersyukur. Putusan itu menjadi tolak ukur bahwa hak disabilitas Indonesia harus diperjuangkan. ”Dan ini merupakan hadiah untuk Hari Disabilitas Internasional. Terpenting kedepannya putusan ini menjadi yurisprudensi agar kasus ini tidak terulang lagi,” kata dia.


Editor : Zen Teguh

BERITA TERKAIT