JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Senin (5/10/2026). Mata uang garuda turun 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.917 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi pada hari Minggu menyatakan akan meluncurkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang dikuasai oleh kelompok tersebut.
"Sebelumnya, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, sebagai tanggapan atas serangan yang dipimpin Arab Saudi di Yaman," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran mengenai produksi di negara pengekspor utama kawasan tersebut. Mereka mengklaim serangan tersebut menyebabkan kebakaran hebat dan merupakan tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir.
Selain itu, suhu perpolitikan di AS memanas, setelah Presiden AS Donald Trump memanfaatkan rapat umum di Ohio pada hari Sabtu untuk melontarkan serangan kasar terhadap Partai Demokrat, menjanjikan bantuan keuangan jika Partai Republik memenangkan pemilihan paruh waktu.
Dari sentimen dalam negeri, sejak konflik Timur Tengah bergejolak, Indonesia telah kehilangan 25 persen sumber pasokan impor bahan bakar. Sehingga pemerintah harus mencari sumber minyak dari negara lain guna untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman.
Seiring hal tersebut, pemerintah kini melakukan hunting atau pencarian langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok BBM untuk menjaga ketahanan pasokan nasional. Mekanisme pengadaan BBM yang sebelumnya dilakukan melalui lelang kini menghadapi kendala karena minimnya peserta.