JAKARTA, iNews.id - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, memperkirakan harga pertalite naik ke kisaran Rp11.500 per liter dari sebelumnya Rp10.000 per liter. Hal ini demi menekan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kenaikan harga minyak dunia.
Menurut Fabby, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga agar beban kompensasi energi tidak semakin membengkak dan tetap berada dalam batas aman fiskal.
"Saya hitung-hitung, agar kompensasi tidak terlalu besar dan masih dalam batas jangkauan APBN, agar tidak defisit, maka pertalite itu mungkin harusnya naik 10-15 persen," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah global memberikan dampak signifikan terhadap beban negara. Setiap kenaikan 1 dolar AS di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN dapat menambah beban fiskal sekitar Rp6,5 triliun hingga Rp6,8 triliun per tahun.
Jika tren kenaikan harga minyak berlanjut, maka tambahan beban tersebut berpotensi memperbesar dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Dalam situasi ini, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menambah utang atau menyesuaikan harga BBM.